Washington DC, Porosjambimedia.com– Rilis jutaan dokumen terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein kembali mengguncang publik internasional. Dalam berkas setebal sekitar 3 juta halaman yang dibuka otoritas Amerika Serikat, sejumlah nama tokoh dunia ikut terseret, termasuk pendiri Microsoft, Bill Gates.
Nama Gates muncul berulang kali dalam korespondensi email Epstein yang kini menjadi sorotan. Salah satu email penting bertanggal 3 Maret 2017 memperlihatkan pembahasan berbagai isu strategis, mulai dari simulasi pandemi, teknologi kesehatan, hingga senjata berbasis neuroteknologi.
Dilansir media Turki Haberler, Selasa (3/2/2026), email tersebut menarik perhatian karena pembahasan simulasi pandemi dilakukan bertahun-tahun sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia. Hal ini memicu beragam spekulasi di ruang publik.
Email dengan subjek “bgc3 Deliverables and Scope” itu dikirim langsung kepada Bill Gates, yang disapa secara informal sebagai “Bill”, serta ditembuskan kepada Larry Cohen, CEO dan mitra pengelola Gates Ventures—perusahaan jasa pribadi milik Gates yang sebelumnya dikenal sebagai bgC3.
Dalam korespondensi tersebut, Epstein menawarkan kerja sama riset dan pengembangan di lima bidang utama, yakni:
1. Simulasi pandemi
2. Senjata neuroteknologi
3. Data kesehatan digital
4. Penyakit kronis dan ilmu otak
5. Ekonomi kesehatan
Untuk topik simulasi pandemi, email itu menyebut penyusunan rekomendasi lanjutan serta spesifikasi teknis simulasi berbagai strain pandemi. Sementara pada bidang neuroteknologi, dibahas penyusunan dokumen kebijakan mengenai penggunaan teknologi otak dalam konteks intelijen dan pertahanan nasional.
Selain itu, Epstein juga menyinggung pengembangan sistem data kesehatan digital berbasis zero-knowledge proof, yang bertujuan melindungi privasi data kesehatan tanpa menghambat akses informasi penting.
Epstein mengklaim telah bekerja sama dengan sejumlah pakar setelah berdiskusi dengan Gates, sebelum menutup email tersebut dengan ungkapan terima kasih dan kesediaan untuk membantu lebih lanjut.
Meski isi dokumen ini memicu perhatian luas, otoritas AS menegaskan bahwa seluruh berkas tersebut masih dalam proses peninjauan dan masyarakat diminta berhati-hati dalam menarik kesimpulan dari korespondensi yang terungkap. (Dta)















