Jakarta, Porosjambimedia.com– Rasa nyeri tajam di tumit saat berdiri lama atau ketika melangkah pertama kali di pagi hari sering kali dianggap hal biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda Plantar Fasciitis, yaitu peradangan pada jaringan telapak kaki yang berfungsi menopang berat badan.
Plantar Fasciitis merupakan salah satu penyebab nyeri tumit yang paling umum, terutama pada orang yang sering berdiri lama, berjalan jauh, atau menggunakan alas kaki yang kurang mendukung. Kondisi ini dapat muncul secara perlahan maupun tiba-tiba, dan cenderung semakin terasa saat kaki digunakan untuk beraktivitas.
Menurut dr Mohammad Tsani Musyafa, MKes, SpOT, dokter spesialis ortopedi, peradangan pada telapak kaki menyebabkan jaringan menebal dan menekan saraf di sekitarnya. Hal ini memicu nyeri menusuk di bagian bawah tumit, terutama saat menopang tubuh.
Gejala khas Plantar Fasciitis biasanya berupa rasa nyeri tajam di tumit bagian bawah saat bangun tidur, setelah duduk terlalu lama, berdiri dalam waktu lama, atau usai berolahraga. Jika tidak ditangani, nyeri dapat menjalar hingga bagian depan kaki.
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadinya Plantar Fasciitis antara lain usia di atas 40 tahun, terutama pada perempuan, karena elastisitas jaringan kaki mulai menurun. Selain itu, aktivitas fisik berintensitas tinggi seperti lari jarak jauh, senam aerobik, dan balet juga dapat memicu kondisi ini.
Struktur kaki datar, lengkungan kaki terlalu tinggi, pola berjalan yang tidak normal, obesitas, serta kebiasaan memakai sepatu tanpa bantalan yang baik turut memperbesar risiko terjadinya peradangan pada telapak kaki.
Sementara itu, dr Reyner Valiant Tumbelaka, MKedKlin, SpOT menjelaskan bahwa sebagian besar kasus Plantar Fasciitis dapat membaik dalam beberapa bulan dengan perawatan sederhana di rumah. Beberapa langkah yang disarankan meliputi istirahat yang cukup, kompres es, peregangan otot kaki secara rutin, serta penggunaan obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter.
Penggunaan penyangga kaki saat tidur, plester penopang, dan sol sepatu khusus (orthotics) juga dapat membantu mengurangi tekanan pada telapak kaki dan mempercepat proses pemulihan.
Apabila keluhan tidak membaik, dokter dapat merekomendasikan tindakan medis lanjutan seperti terapi injeksi Platelet Rich Plasma (PRP), terapi gelombang kejut (Extracorporeal Shock Wave Therapy), hingga tindakan pembedahan pada kasus tertentu.
Untuk mencegah nyeri bertambah parah, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter ortopedi agar mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing. (Ai)















