Listrik Mengalir, Danau Menyusut Menjadi Catatan Kritis untuk PLTA Kerinci Merangin Hidro

- Redaksi

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Iqbal Adi Guna (Mahasiswa Kehutanan)

Kerinci,Porosjambimedia.com – Indonesia tengah berpacu menuju era transisi energi. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dipromosikan sebagai simbol energi bersih dan ramah lingkungan. Namun, peristiwa menyusutnya debit air Danau Kerinci dalam beberapa waktu terakhir memaksa kita bertanya ulang: benarkah energi ini sepenuhnya “hijau” jika dalam prosesnya justru mengeringkan ekosistem dan memutus nadi kehidupan masyarakat lokal?

Menyusutnya air Danau Kerinci hingga memengaruhi aliran sungai utamanya bukanlah fenomena alam biasa. Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan fase uji coba operasional **Pembangkit Listrik Tenaga Air Kerinci Merangin Hidro (PLTA KMH)**.

Sebagai mahasiswa kehutanan, saya memandang peristiwa ini sebagai sinyal bahaya atas pengelolaan sumber daya air yang belum sepenuhnya mempertimbangkan dimensi sosial dan ekologis.

Dalam kajian hidrologi, danau dan sungai merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung. Ketika pengaturan pintu air dilakukan untuk kepentingan uji coba turbin tanpa perhitungan debit lingkungan (ecological flow) yang memadai, maka kerusakan ekologis menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Penyusutan air yang drastis telah mengeringkan zona littoral wilayah dangkal di tepian danau yang berfungsi sebagai habitat penting dan lokasi pemijahan ikan. Jika area ini terus mengalami kekeringan, maka kita sedang menyaksikan proses kepunahan biota air endemik Danau Kerinci secara perlahan namun pasti. Kerusakan semacam ini tidak bersifat sementara, melainkan meninggalkan jejak ekologis jangka panjang.

Baca Juga :  Skandal integritas kesehatan, Koordinator BEM NUSANTARA JAMBI buka suara.

Dampak paling nyata dari kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar danau. Nelayan tradisional kehilangan ruang tangkap akibat air yang terus surut dan populasi ikan yang menurun drastis. Di sisi lain, petani di wilayah hilir sungai utama mulai dihantui

kecemasan akan ancaman gagal panen karena berkurangnya pasokan air irigasi.

Ironi pun tak terelakkan. Listrik yang dihasilkan atas nama pembangunan dan penerangan justru berpotensi menggelapkan masa depan ekonomi masyarakat lokal. Pembangunan yang dijalankan tanpa keseimbangan ekologis dan partisipasi masyarakat hanya akan melahirkan ketimpangan baru di mana suara mesin turbin terdengar lebih nyaring daripada jeritan rakyat di tepian danau.

Sebagai generasi muda Kerinci, persoalan ini bukan semata isu teknis pembangkitan listrik, melainkan persoalan kemanusiaan dan keadilan ekologis. Iqbal adi guna mahasiswa kehutanan menyampaikan

Baca Juga :  HIMA IH UNJA, MILIK SIAPA ?

“Pengelolaan PLTA seharusnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan keberlanjutan ekosistem. Menyusutnya debit Danau Kerinci yang diduga berkaitan dengan uji coba PLTA Kerinci Merangin Hidro menunjukkan bahwa keseimbangan tersebut perlu dievaluasi. Ketika aliran air tidak dijaga secara memadai, dampaknya langsung dirasakan oleh ekosistem dan masyarakat yang bergantung pada danau dan sungai.”

Pemerintah dan pengelola PLTA Kerinci Merangin Hidro harus segera melakukan evaluasi menyeluruh dan transparan, khususnya terkait pengelolaan debit air selama fase uji coba. Transisi energi memang penting, tetapi tidak boleh dibangun di atas kerusakan ekosistem dan penderitaan masyarakat lokal.

Danau Kerinci adalah warisan ekologis dan sosial bagi generasi mendatang. Jangan biarkan ia mati perlahan hanya demi mengejar angka statistik energi nasional.

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
Menagih Komitmen Tata Kelola Lingkungan di Mendalo Darat
Selamat Jalan H. Bakri: Jambi Kehilangan Putra Terbaik, IKAMI Kehilangan Sosok Pengayom
LBH NADI Perkuat Sinergi dengan BNNP Jambi, Soroti Modus Baru “Pod Getar” dan Dorong Penguatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB