Klaten, Porosjambimedia.com– Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan mulai melakukan rehabilitasi terhadap puluhan cagar budaya di wilayah Aceh dan Sumatera yang terdampak banjir besar. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa proses perbaikan dan pembersihan telah berjalan di sejumlah lokasi.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon usai meresmikan pengembangan tahap pertama Situs Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Rabu (21/1/2026) malam. Ia menegaskan bahwa laporan progres pemulihan telah disampaikan kepada DPR.
“Cagar budaya yang terdampak banjir sudah mulai ditangani. Perbaikan dan pembersihan, termasuk pengangkatan lumpur, saat ini sedang berlangsung,” ujar Fadli Zon.
Menurutnya, tingkat kerusakan pada situs-situs tersebut bervariasi, mulai dari kategori ringan, sedang, hingga berat. Namun, sebagian besar kerusakan berada pada tingkat ringan dan sedang. Daerah Aceh Tamiang disebut sebagai salah satu wilayah dengan dampak yang cukup signifikan.
“Mayoritas kerusakan masih tergolong ringan dan sedang. Untuk wilayah yang terdampaknya lebih berat, penanganan dilakukan secara bertahap sambil menunggu kondisi benar-benar aman,” jelasnya.
Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa jumlah objek yang terdampak mencapai lebih dari 100 lokasi, termasuk yang telah berstatus cagar budaya maupun yang masih dalam kategori objek yang diduga memiliki nilai cagar budaya.
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan mencatat sekitar 70 situs budaya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami dampak langsung akibat banjir. Pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran untuk pemulihan dan pelestarian warisan budaya tersebut.
Meski penanganan bencana alam secara umum menjadi tanggung jawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum, serta instansi teknis lainnya, Kementerian Kebudayaan tetap mengambil peran dalam aspek pemulihan cagar budaya dan museum.
“Kami memang bukan penanggung jawab utama kebencanaan, tetapi untuk perlindungan cagar budaya dan museum, kami melakukan optimalisasi anggaran agar pemulihan bisa segera dilakukan,” kata Fadli Zon dalam kesempatan terpisah.
Ia menambahkan, pendataan terhadap situs-situs terdampak masih terus dilakukan dan jumlahnya berpotensi bertambah. Banyak di antaranya merupakan cagar budaya tingkat daerah, serta objek bersejarah yang belum ditetapkan secara administratif namun memiliki nilai budaya tinggi.
“Kami akan melakukan intervensi secara bertahap berdasarkan data yang ada. Anggaran dan dukungan teknis telah disiapkan untuk perbaikan serta pembersihan situs-situs budaya yang terdampak banjir,” tutupnya. (Khy)















