Oslo, Porosjambimedia.com – Komite Nobel Norwegia memberikan klarifikasi tegas terkait tindakan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, yang menyerahkan medali Nobel Perdamaian miliknya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lembaga tersebut emenekankan bahwa status sebagai penerima Nobel tidak dapat dipindahtangankan kepada siapa pun.
Penyerahan medali itu terjadi saat Machado bertemu Trump di Gedung Putih pada Kamis (15/1). Medali Nobel yang dibingkai khusus tersebut diberikan sebagai bentuk simbolis penghormatan politik. Trump, yang diketahui telah lama menginginkan penghargaan bergengsi itu, menyambut hadiah tersebut dengan antusias dan menyebutnya sebagai “tindakan luar biasa yang penuh makna”.
Namun langkah Machado justru memicu gelombang kritik, baik dari kalangan politik internasional maupun dari Norwegia sendiri. Banyak pihak menilai tindakan itu sarat kepentingan politik dan berupaya menarik dukungan Trump terhadap situasi politik Venezuela pasca operasi militer yang menggulingkan Nicolas Maduro awal Januari lalu.
Menanggapi polemik tersebut, Komite Nobel Norwegia menegaskan bahwa kepemilikan fisik atas medali tidak mengubah status historis penerima penghargaan.
“Siapa pun yang telah diumumkan sebagai penerima Nobel Perdamaian akan tetap tercatat selamanya sebagai peraih penghargaan tersebut, terlepas dari keberadaan medali atau diplomanya,” demikian pernyataan resmi Komite pada Jumat (16/1).
Lembaga itu juga menjelaskan bahwa tidak ada aturan yang melarang penerima Nobel menjual, menghibahkan, atau menyerahkan medali mereka kepada pihak lain. Meski demikian, gelar kehormatan sebagai peraih Nobel tetap melekat pada individu yang diumumkan secara resmi.
Senada dengan itu, Pusat Perdamaian Nobel melalui media sosial menegaskan bahwa benda fisik dapat berpindah tangan, tetapi status peraih Nobel tidak mungkin diubah. Institut Nobel Norwegia juga mengutip Statuta Yayasan Nobel yang menyatakan bahwa keputusan pemberian penghargaan bersifat final, permanen, dan tidak dapat dialihkan.
Di Norwegia, sejumlah tokoh politik mengecam langkah Machado. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai keputusan yang tidak pantas dan hanya menguntungkan citra Trump. Beberapa politisi bahkan menilai Trump sekadar memanfaatkan simbol Nobel untuk kepentingan pribadinya.
Kontroversi ini kembali memicu perdebatan tentang batas antara penghargaan kemanusiaan dan manuver politik global, terutama ketika Nobel Perdamaian dibawa masuk ke arena diplomasi praktis. (Dta)















