Porosjambimedia.com – Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap fenomena yang mengkhawatirkan: sekitar 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas sepanjang hidup mereka. Data ini menegaskan bahwa isu kesuburan kini menjadi masalah global yang membutuhkan perhatian serius.
Dalam laporan WHO tahun 2023, tercatat 17,5% populasi dewasa mengalami infertilitas, dengan angka yang hampir sama antara negara berpendapatan tinggi maupun rendah. WHO menekankan bahwa gangguan kesuburan tidak mengenal batas sosial maupun ekonomi, sehingga akses terhadap layanan fertilitas yang terjangkau harus diperluas.
Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan memperoleh kehamilan setelah 12 bulan berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Kondisi ini dapat memicu tekanan mental, stigma, hingga beban finansial bagi pasangan.
Kondisi di Indonesia
Di tengah wacana bonus demografi, Indonesia juga menghadapi tantangan kesuburan. Data Kemenkes 2022 menunjukkan 10–15% dari 39,8 juta pasangan usia subur mengalami kesulitan memiliki anak—setara dengan 4–6 juta pasangan.
Meski demikian, stigma masih kerap menyudutkan perempuan. Padahal, menurut William William, pengajar Departemen Biologi Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya,
30% faktor penyebab infertilitas berasal dari laki-laki.
Dalam artikelnya untuk The Conversation (20 November 2025), ia memaparkan bahwa penelitian tahun 2023 menemukan penurunan signifikan pada jumlah sperma pria di seluruh dunia, yaitu lebih dari 50% sejak tahun 1970-an.
Tren ini terjadi di hampir semua kawasan, termasuk Asia.
“Penurunan ini bukan hanya soal peluang kehamilan, tapi juga indikator gangguan kesehatan dan lingkungan,” ujarnya.
Polusi, Mikroplastik, dan Gaya Hidup Jadi Pemicu
Sperma dianggap sebagai cerminan kondisi tubuh laki-laki. Jika jumlahnya menurun, besar kemungkinan tubuh sedang terpapar polusi atau gaya hidup tidak sehat.
Penelitian tahun 2022 dalam Science of The Total Environment menunjukkan polusi udara berperan dalam menurunkan kualitas sperma. Risiko ini semakin tinggi di kota-kota besar seperti Jakarta, yang kualitas udaranya kerap melampaui batas aman WHO.
Selain polusi udara, mikroplastik menjadi faktor yang kini mendapat perhatian besar. Bahan kimia dari mikroplastik diduga dapat mengganggu hormon dan proses pembentukan sperma.
Gaya hidup modern yang tidak sehat juga memperburuk keadaan. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, stres berkepanjangan, serta pola makan tinggi lemak dapat menurunkan kualitas sperma dan mengganggu produksi hormon testosteron.
Minimnya Kesadaran Pemeriksaan
Banyak pria enggan melakukan pemeriksaan kesuburan karena stigma. Padahal, tes analisis sperma adalah prosedur sederhana yang dapat mengidentifikasi penyebab infertilitas lebih cepat.
Banyak kondisi seperti jumlah sperma rendah atau bentuk sperma yang tidak normal dapat membaik melalui perubahan gaya hidup atau penanganan medis, namun enggan diperiksa membuat masalah sering terlambat diketahui.
Pencegahan lewat Perubahan Gaya Hidup
Beberapa langkah dapat membantu menurunkan risiko infertilitas:
• Menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi alkohol
• Menjaga berat badan ideal dan rutin berolahraga
• Tidur cukup dan mengelola stres
• Menghindari paparan panas berlebih, misalnya memangku laptop terlalu lama
• Mengonsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah, sayur, ikan, dan kacang-kacangan
WHO menegaskan perlunya kebijakan global dan riset yang lebih kuat untuk mengatasi krisis kesuburan ini. Penurunan jumlah sperma yang begitu drastis dalam lima dekade terakhir merupakan peringatan bahwa gaya hidup dan kondisi lingkungan dunia sed ang berada di jalur yang mengkhawatirkan. (Hst)
Sumber Berita : CNBC INDONESIA















