Porosjambimedia.com— Puluhan ribu warga tumpah ruah di jalanan kota Novi Sad pada Sabtu (1/11/2025) untuk memperingati satu tahun tragedi runtuhnya atap stasiun kereta api yang menewaskan 16 orang. Aksi tersebut menjadi simbol duka sekaligus bentuk protes terhadap pemerintah Serbia.
Sejak pagi, massa berkumpul di sekitar stasiun yang kini telah ditutup sebagian. Mereka berjalan perlahan menuju pintu masuk utama, membawa bunga dan lilin untuk mengenang para korban. Suasana haru terasa saat seorang ibu berlutut di depan bangunan stasiun sambqfril memegang poster bertuliskan “Anak-anakku”.
Peserta mengenakan pakaian hitam dan mengangkat replika hati berwarna merah berisi nama-nama korban. Karangan bunga dan lilin membanjiri area depan stasiun, sementara ribuan mahasiswa ikut hadir setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer sebagai bentuk solidaritas dan tuntutan keadilan.
Para mahasiswa dan akademisi menuding tragedi itu terjadi karena praktik korupsi dan nepotisme dalam proyek renovasi stasiun yang rampung setahun sebelum kejadian. Mereka menilai kelalaian pemerintah menjadi penyebab utama runtuhnya atap yang baru dibangun. Namun, pejabat pemerintah menolak tuduhan tersebut
Aksi damai ini juga diwarnai pelepasan puluhan merpati putih sebagai simbol perdamaian dan penghormatan bagi para korban. Menjelang malam, lautan manusia tetap bertahan di sekitar lokasi tragedi. Dalam suasana hening, ribuan warga menyalakan lampu ponsel selama 16 menit — melambangkan jumlah korban yang gugur.
Presiden Aleksandar Vucic dan Ketua Parlemen Ana Brnabic sempat menyebut kemungkinan adanya unsur terorisme dalam insiden itu, namun pernyataan tersebut justru memicu kemarahan publik dan memperkuat gelombang protes nasional yang kini meluas ke berbagai kota besar di Serbia.
Cahaya putih dari ribuan ponsel menerangi langit malam Novi Sad, menciptakan pemandangan khidmat yang menjadi pengingat kuat akan duka mendalam dan tuntutan akan keadilan yang belum terjawab. (Hst)
Sumber Berita : CNBC INDONESIA















