JAKARTA, Porosjambimedia.com – Perusahaan teknologi raksasa Meta kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap sekitar 8.000 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan yang kini fokus memperkuat pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Selain memangkas ribuan pegawai, Meta juga menutup sekitar 6.000 posisi rekrutmen baru dan memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke tim yang berfokus pada pengembangan AI.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, berupaya menenangkan kondisi internal perusahaan usai kebijakan tersebut menuai kegelisahan dari para pekerja. Dalam memo internal yang dikutip Financial Times, Zuckerberg memastikan tidak akan ada lagi PHK massal di Meta sepanjang tahun 2026.
“Saya akan menegaskan bahwa kami tidak akan melakukan PHK massal di seluruh perusahaan lagi tahun ini,” ujar Zuckerberg seperti dikutip Financial Times, Kamis (21/5/2026).
Ia juga mengakui komunikasi internal perusahaan selama proses restrukturisasi belum berjalan maksimal sehingga memicu ketidakpuasan di kalangan karyawan.
“Saya juga ingin mengakui bahwa komunikasi kami tidak sejelas yang kami inginkan, dan itu menjadi salah satu hal yang ingin kami perbaiki,” lanjutnya.
Langkah besar Meta tersebut dilakukan untuk mempercepat pengembangan teknologi AI di tengah persaingan ketat industri teknologi global. Zuckerberg diketahui telah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk membangun pusat data canggih serta merekrut peneliti AI dari berbagai perusahaan teknologi pesaing.
Meta saat ini tengah berupaya mengejar ketertinggalan dari perusahaan seperti Google dan OpenAI dalam pengembangan model AI terbaru.
Model AI terbaru Meta bernama Muse Spark yang diluncurkan beberapa waktu lalu dinilai mulai menunjukkan perkembangan positif, meski masih dianggap tertinggal dibanding kompetitornya.
Dalam laporan keuangan sebelumnya, Meta juga mengungkapkan belanja modal perusahaan diperkirakan hampir dua kali lipat hingga mencapai USD 135 miliar sepanjang tahun ini.
Menurut sejumlah sumber internal perusahaan, Zuckerberg meyakini teknologi AI nantinya mampu membantu merampingkan tenaga kerja, terutama dalam pekerjaan coding dan tugas-tugas teknik lainnya melalui otomatisasi sistem.
Kebijakan restrukturisasi besar-besaran tersebut menjadi bagian dari transformasi Meta menuju perusahaan berbasis AI di masa depan, meski di sisi lain memunculkan kekhawatiran baru terkait dampak otomatisasi terhadap lapangan pekerjaan di sektor teknologi















