Jakarta,Porosjambimedia.com– Belakangan muncul tren minum oralit saat sahur dengan klaim dapat membantu tubuh lebih tahan haus selama berpuasa. Alasannya, minuman ini mengandung elektrolit yang disebut mampu menjaga keseimbangan cairan lebih lama. Namun, benarkah aman dan efektif untuk orang sehat?
Oralit atau yang dikenal secara medis sebagai Oral Rehydration Salts (ORS) merupakan larutan yang diformulasikan khusus untuk mengatasi dehidrasi akibat diare atau muntah. Komposisinya terdiri dari campuran air, garam (natrium), glukosa, dan mineral lain yang membantu penyerapan cairan di usus.
Mekanisme kerjanya cukup spesifik. Glukosa membantu penyerapan natrium di usus halus, lalu air ikut terserap bersama natrium ke dalam aliran darah. Cara inilah yang membuat ORS efektif menggantikan cairan tubuh yang hilang secara cepat pada kondisi dehidrasi.
Penggunaan ORS sendiri direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) sebagai terapi standar untuk menangani diare. Namun, larutan ini memang dirancang untuk kondisi medis tertentu, bukan sebagai minuman harian bagi orang yang sehat.
Pada individu yang tidak mengalami kekurangan cairan, konsumsi natrium berlebih justru bisa memicu rasa haus. Ketika kadar garam dalam darah meningkat, tubuh akan mengirim sinyal ke otak untuk minum lebih banyak guna menyeimbangkan konsentrasi tersebut. Artinya, minuman tinggi elektrolit tidak otomatis membuat seseorang lebih tahan haus saat puasa.
Selain itu, kemampuan tubuh menjaga hidrasi tidak hanya bergantung pada satu jenis minuman. Total asupan cairan sejak berbuka, jenis makanan yang dikonsumsi, aktivitas fisik, hingga suhu lingkungan turut memengaruhi keseimbangan cairan tubuh.
Bagaimana dengan air kelapa? Minuman alami ini memang mengandung elektrolit seperti kalium dan sedikit natrium, sehingga sering disebut sebagai “oralit alami”. Namun komposisinya berbeda dengan ORS yang memiliki takaran khusus untuk terapi medis. Air kelapa bisa menjadi pilihan variasi minuman saat berbuka, tetapi tetap bukan pengganti terapi rehidrasi medis.
Agar tidak cepat haus saat puasa, pendekatan terbaik adalah menjaga pola makan dan minum secara menyeluruh. Pastikan kebutuhan cairan tercukupi dari berbuka hingga sahur, batasi makanan tinggi garam, serta pilih karbohidrat kompleks dan protein agar energi lebih stabil. Mengurangi minuman berkafein juga dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Dengan pola hidrasi yang tepat, tubuh sebenarnya sudah memiliki sistem alami untuk mengatur keseimbangan cairan tanpa perlu mengandalkan oralit sebagai rutinitas harian saat sahur. (Ai)















