Jakarta, Porosjambimedia.com – Ketegangan di Tepi Barat kembali meningkat setelah sekelompok pemukim Israel dilaporkan menghancurkan sedikitnya 15 rumah serta kandang hewan milik warga Palestina di desa al-Duyuk al-Tahta, wilayah dekat Jericho.
Bangunan yang dirusak sebagian besar berupa rumah semi permanen dan gubuk sederhana. Peristiwa ini disebut memaksa sejumlah keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Seorang warga desa, Mustafa Kaabneh, menuturkan bahwa sekitar 50 orang pemukim datang secara berkelompok. Mereka disebut memaksa penghuni keluar sebelum merobohkan bangunan dan mengambil sejumlah barang milik warga.
“Mereka datang dalam jumlah besar, sebagian membawa senjata dan mengenakan penutup wajah. Setelah itu alat berat didatangkan untuk meratakan bangunan,” ujarnya seperti dikutip AFP, Kamis (12/2/2026).
Warga lainnya, Bassem Kaabneh (23), mengklaim terjadi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak saat proses pengosongan rumah berlangsung. Ia juga menyebut sejumlah barang pribadi turut dibawa pergi.
Salah satu pemilik rumah yang terdampak, Abu Audi al-Rajabi, mengatakan bangunannya telah berdiri lebih dari satu dekade dan tidak pernah menerima pemberitahuan resmi terkait pembongkaran.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kabinet keamanan Israel menyetujui kebijakan baru yang memperluas kontrol administratif di wilayah Tepi Barat. Kebijakan tersebut membuka kemungkinan ekspansi permukiman dan pengelolaan sejumlah lokasi keagamaan oleh otoritas Israel, termasuk di area yang selama ini berada di bawah administrasi Otoritas Palestina sesuai Perjanjian Oslo.
Langkah tersebut menuai reaksi keras dari komunitas internasional. Israel sendiri telah menguasai Tepi Barat sejak 1967. Saat ini, sekitar tiga juta warga Palestina tinggal di wilayah tersebut. Di sisi lain, lebih dari 500.000 warga Israel menetap di berbagai permukiman dan pos terdepan di kawasan itu, yang oleh hukum internasional dianggap ilegal.
Situasi keamanan di Tepi Barat dalam beberapa waktu terakhir terus menjadi sorotan menyusul meningkatnya ketegangan antara warga Palestina dan pemukim Israel. (Dta)















