JAKARTA , Porosjambimedia.com– Tekanan politik akibat bencana cuaca ekstrem memaksa Menteri Dalam Negeri Portugal, Maria Lucia Amara, meletakkan jabatannya. Keputusan itu diambil setelah pemerintah menuai kritik keras atas penanganan banjir dan badai hebat yang melanda negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pernyataan resmi kepresidenan Portugal yang dirilis Selasa malam waktu setempat, Amaral menyatakan dirinya tidak lagi memiliki kondisi pribadi maupun politik yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagai menteri.
Untuk sementara, jabatan tersebut akan dirangkap oleh Perdana Menteri Luis Montenegro yang berasal dari koalisi tengah-kanan.
Pemerintahan Montenegro sendiri mendapat sorotan tajam terkait respons terhadap dua badai besar yang datang beruntun, disertai hujan deras dan angin kencang. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, sementara total kerugian ditaksir mencapai empat miliar euro.
Oposisi menilai pengunduran diri tersebut sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam menangani situasi darurat nasional. Sekretaris Jenderal Partai Sosialis, Jose Luis Carneiro, menyebut langkah itu sebagai bukti bahwa pemerintah tidak sigap menghadapi krisis.
Portugal dalam beberapa tahun terakhir memang menghadapi pola cuaca yang semakin ekstrem, mulai dari hujan lebat berkepanjangan hingga gelombang panas intens. Para ilmuwan mengaitkan fenomena ini dengan dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Negara itu masih dalam tahap pemulihan dari Badai Kristin yang menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan pasokan listrik, ketika Badai Leonardo kembali menghantam pada awal pekan ini. Dalam peristiwa terbaru, satu orang dilaporkan meninggal dan sekitar 1.100 warga terpaksa dievakuasi.
Institut Meteorologi Nasional Portugal (IPMA) menetapkan status siaga oranye di sepanjang garis pantai akibat gelombang tinggi yang mencapai 13 meter. Sementara itu, delapan dari 18 distrik di daratan utama, khususnya wilayah tengah dan selatan, juga berada dalam status waspada.
Otoritas Perlindungan Sipil Nasional menyebut sejumlah daerah aliran sungai berada dalam tekanan berat, termasuk Sungai Tagus di Lisbon dan Sungai Sado di wilayah selatan.
Kondisi ini memperpanjang daftar tantangan yang dihadapi Portugal dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. (Dta)















