Tegal, Porosjambimedia.com– Fenomena tanah gerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pergerakan tanah yang dipicu curah hujan tinggi memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan menyelamatkan barang-barang penting ke lokasi yang lebih aman.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, mengungkapkan bahwa aktivitas pergeseran tanah telah terjadi sejak 2 Februari dan masih terus berlangsung hingga sekarang. Pemerintah desa telah mengeluarkan imbauan kepada warga untuk segera mengosongkan rumah demi menghindari risiko yang lebih besar.
“Selama hujan masih turun, pergerakan tanah belum berhenti. Kami minta warga segera memindahkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan,” ujar Mashuri, Senin (9/2/2026).
Berdasarkan data sementara, sebanyak **464 rumah** terdampak bencana ini. Dari jumlah tersebut, **205 rumah mengalami kerusakan berat**, **174 rusak sedang**, dan **85 rusak ringan**. Selain permukiman warga, bencana ini juga merusak fasilitas umum, meliputi **21 fasilitas sosial**, **7 tempat ibadah**, **7 bangunan pendidikan**, serta **1 kantor pemerintahan**. Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur berupa **3 titik jalan desa dan kabupaten**, **1 bendung irigasi**, serta **1 jembatan desa**.
Mashuri menambahkan, jumlah rumah terdampak masih berpotensi bertambah karena proses pendataan dan rekapitulasi masih dilakukan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim).
Evakuasi barang warga tidak berjalan mudah. Kondisi jalan yang rusak parah dan terputus akibat pergerakan tanah membuat kendaraan biasa sulit melintas. Jarak antara rumah warga dan lokasi pengungsian pun cukup jauh, sehingga proses pemindahan barang menjadi terkendala.
Salah satu warga, Tagino (37), mengaku telah menerima instruksi pengosongan rumah sejak tiga hari lalu. Ia bersama warga lain dibantu relawan untuk mengevakuasi barang-barang yang masih tertinggal.
“Sudah tiga hari ini kami diminta meninggalkan rumah karena tanah masih bergerak. Relawan membantu memindahkan barang yang masih bisa dibawa,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan akses, bantuan datang dari komunitas jip offroad yang turun langsung ke lokasi bencana. Armada kendaraan berpenggerak empat roda disiagakan untuk menerobos medan ekstrem dan membantu proses evakuasi.
Ketua Komunitas Tegal American Jeep, Ahmad Atiq, menjelaskan bahwa aksi sosial ini melibatkan sejumlah komunitas jip offroad di wilayah Tegal dan sekitarnya. Fokus utama mereka adalah membantu mengangkut warga serta barang-barang yang tidak bisa dievakuasi menggunakan kendaraan biasa.
“Kami melibatkan komunitas American Jeep, IOF, SJI, Bregas 4×4, dan TDI. Jalan di lokasi hanya bisa dilalui kendaraan 4×4 karena akses terputus,” jelas Atiq.
Tak hanya membantu transportasi, komunitas jip juga berperan dalam kegiatan trauma healing bagi warga terdampak. Kegiatan ini dilakukan di lokasi pengungsian untuk membantu masyarakat, terutama anak-anak, agar tidak mengalami trauma berkepanjangan pascabencana. (Khy)















