Jakarta, Porosjambimedia.com – Pemerintah Indonesia mulai memfinalisasi berbagai agenda utama menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada April 2026. Fokus utama pertemuan ini diarahkan pada penciptaan kerja sama nyata yang memberikan dampak langsung bagi negara anggota.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan bahwa penyusunan materi pertemuan masih terus berjalan dengan penekanan pada hasil yang aplikatif, khususnya di sektor ekonomi. Menurutnya, setiap negara anggota D-8 memiliki potensi unggulan yang apabila dikolaborasikan akan membentuk kekuatan ekonomi kolektif yang signifikan.
Pemerintah menargetkan KTT kali ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menghasilkan kesepakatan strategis yang dapat diimplementasikan dalam jangka pendek maupun menengah. Berbagai pembahasan teknis disebut masih terus didalami oleh kementerian dan lembaga terkait.
Terkait lokasi acara, Jakarta dipastikan menjadi tuan rumah, dengan pemilihan tempat yang dinilai mampu merepresentasikan skala internasional forum tersebut.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Arief Havas Oegroseno mengungkapkan bahwa Indonesia mengusulkan penambahan isu kelautan sebagai agenda baru kerja sama D-8. Usulan ini dilatarbelakangi oleh karakteristik seluruh negara anggota yang memiliki wilayah maritim, namun belum pernah menjadikan sektor kelautan sebagai fokus utama kerja sama.
Isu kelautan yang diusulkan mencakup pengelolaan sumber daya laut, ekonomi biru, serta perlindungan lingkungan maritim. Agenda tersebut telah dimasukkan dalam pembahasan resmi KTT.
Pemerintah juga telah mendistribusikan undangan resmi kepada para kepala negara anggota D-8, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi kehadiran yang dapat diumumkan ke publik.
Sebagai informasi, D-8 merupakan forum kerja sama pembangunan yang dibentuk pada 1997 dan beranggotakan delapan negara berkembang, yakni Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. (Khy)















