Porosjambimedia.com– Perjalanan lintas zona waktu sering meninggalkan efek lelah berkepanjangan, sulit tidur, hingga sulit fokus. Kondisi ini dikenal sebagai jet lag dan kerap dialami wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis internasional.
Para pakar menyebut, cara paling efektif untuk mengatasi jet lag bukan dengan memaksa tidur, melainkan menyesuaikan diri dengan pola cahaya di lokasi tujuan. Cahaya berperan besar dalam mengatur jam biologis manusia.
Ahli neurologi Dr. Lynette Gogol menjelaskan bahwa semakin jauh perbedaan zona waktu yang ditempuh, semakin besar gangguan pada sistem sirkadian tubuh.
“Perjalanan ke arah timur biasanya lebih berat dibanding ke barat. Tubuh dipaksa bangun dan tidur lebih awal, sementara jam biologis manusia secara alami lebih mudah melambat daripada dipercepat,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip dari media internasional.
Cahaya Jadi Kunci Pemulihan Jet Lag
Menurut Dr. Gogol, paparan cahaya adalah sinyal terkuat bagi otak untuk mengatur ulang jam biologis. Namun, waktu paparan cahaya harus tepat agar tidak memperparah jet lag.
Jika bepergian ke arah timur, wisatawan disarankan mendapatkan paparan cahaya pagi sebanyak mungkin. Hal ini membantu tubuh lebih cepat menyesuaikan waktu tidur dan bangun sesuai jam lokal. Sebaliknya, cahaya terang di sore hingga malam hari sebaiknya dikurangi.
Sementara untuk perjalanan ke arah barat, cahaya sore dan awal malam justru membantu tubuh menunda rasa kantuk, sehingga penyesuaian jam biologis berlangsung lebih alami.
“Tubuh akan lebih cepat beradaptasi jika menerima sinyal cahaya yang konsisten dan sesuai dengan arah perubahan zona waktu,” jelasnya.
Alternatif Jika Cahaya Alami Terbatas
Bila sinar matahari sulit diperoleh, cahaya buatan intensitas tinggi bisa dimanfaatkan. Paparan cahaya sekitar 10.000 lux selama 20–30 menit di pagi hari dapat membantu menyesuaikan ritme tubuh, terutama setelah perjalanan ke arah timur. Namun, penentuan waktunya harus tepat agar hasilnya optimal.
Tenaga medis Kelsey Pabst menambahkan bahwa jet lag sejatinya bukan hanya soal kurang tidur.
“Jet lag terjadi ketika jam internal tubuh tidak sejalan dengan siklus terang dan gelap di lingkungan baru. Ketidaksinkronan ini bisa memengaruhi energi, emosi, pencernaan, hingga konsentrasi,” jelasnya.
Ia juga menyarankan penggunaan melatonin dosis rendah (0,5–3 mg) sebelum tidur dan penutup mata untuk meminimalkan paparan cahaya saat istirahat, terutama jika melintasi lebih dari enam zona waktu.
Dengan memahami peran cahaya dan mengatur paparan secara tepat, wisatawan dapat mempercepat adaptasi tubuh, menjaga stamina, dan menikmati perjalanan tanpa terganggu jet lag. (Ai)















