Solo, Porosjambimedia.com – Aktivitas mendaki gunung menawarkan pengalaman alam yang menantang sekaligus memacu adrenalin. Namun di balik keindahannya, pendakian menyimpan berbagai risiko serius, salah satunya adalah hipotermia. Kondisi ini kerap dialami pendaki akibat cuaca ekstrem, angin kencang, hingga suhu dingin yang menusuk, terutama di malam hari.
Mengacu pada informasi dari NHS UK, hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Situasi ini dapat terjadi karena tubuh terlalu lama terpapar udara dingin, menggunakan pakaian basah, atau tidak mengenakan perlindungan yang memadai. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat membahayakan nyawa dan memerlukan penanganan medis serius.
Gejala hipotermia umumnya meliputi kulit pucat dan terasa dingin, tubuh menggigil hebat, bicara tidak jelas, napas melambat, kelelahan ekstrem, hingga penurunan kesadaran. Oleh karena itu, penting bagi pendaki untuk memahami cara penanganan hipotermia sesuai tingkat keparahannya.
*Penanganan Hipotermia Ringan hingga Sedang*
Pada kasus hipotermia ringan dan sedang, fokus utama pertolongan pertama adalah menjaga agar suhu tubuh korban tidak terus menurun serta membantu tubuh kembali stabil. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Segera pindahkan korban ke area yang terlindung dari angin dan lebih hangat, seperti tenda.
2. Lepaskan pakaian basah dan gantikan dengan pakaian kering.
3. Selimuti tubuh korban menggunakan thermal blanket, selimut, atau sleeping bag.
4. Lakukan pemeriksaan tanda vital seperti denyut nadi dan pernapasan.
5. Tambahkan sumber panas, misalnya api unggun dengan jarak aman atau botol berisi air hangat di area leher, ketiak, dan paha.
6. Berikan makanan dan minuman hangat yang manis untuk membantu meningkatkan energi tubuh. Hindari alkohol dan kafein.
7. Ajak korban berkomunikasi agar tetap sadar dan jangan biarkan tertidur.
8. Segera minta bantuan atau evakuasi.
9. Terus pantau kondisi korban hingga pertolongan datang.
*Penanganan Hipotermia Berat*
Hipotermia berat memerlukan penanganan ekstra hati-hati karena kondisi tubuh korban sangat rentan. Penanganannya bertujuan mencegah kehilangan panas lebih lanjut dan menjaga fungsi vital tubuh.
1. Pindahkan korban ke tempat yang lebih hangat dengan gerakan minimal.
2. Tangani korban secara perlahan agar tidak memperberat kerja organ tubuh.
3. Periksa respons korban dengan rangsangan ringan.
4. Ganti pakaian basah dengan pakaian kering dan jaket tebal.
5. Bungkus tubuh korban secara berlapis menggunakan selimut, thermal blanket, dan sleeping bag dengan ketebalan maksimal.
6. Berikan kompres hangat di area leher, ketiak, dan paha.
7. Segera hubungi tim penyelamat atau bantuan medis.
8. Pantau tanda vital secara berkala.
9. Jika korban mengalami henti jantung, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) oleh orang yang terlatih.
*Langkah Pencegahan Hipotermia Saat Mendaki*
Agar terhindar dari risiko hipotermia, pendaki disarankan melakukan persiapan berikut:
1. Membawa pakaian kering cadangan dan menyimpannya dalam plastik kedap air.
2. Menyiapkan makanan tinggi kalori dan karbohidrat.
3. Membawa perlengkapan wajib seperti sleeping bag, jaket hangat, jas hujan, dan pelindung tas.
4. Menghindari penggunaan celana jeans karena sulit kering dan menyimpan dingin.
5. Menggunakan tenda dua lapis untuk perlindungan maksimal.
6. Mendirikan tenda di area aman dan menghindari lembah atau jalur angin.
Dengan pemahaman yang baik dan persiapan matang, risiko hipotermia saat mendaki gunung dapat diminimalkan. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan alam bebas. (Ai)















