Jakarta, Porosjambimedia.com – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mengakselerasi penguatan ketahanan pangan nasional dengan pendekatan baru yang lebih menyeluruh. Upaya mencapai swasembada pangan kini tidak lagi berfokus pada program jangka pendek, melainkan diarahkan pada pembangunan ekosistem pangan yang kuat, berkelanjutan, dan berbasis kepastian usaha.
Akademisi Universitas Andalas, Muhammad Makky, menilai langkah strategis yang ditempuh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menunjukkan pergeseran paradigma besar dalam tata kelola sektor pertanian Indonesia.
Menurut Makky, pemerintah kini tidak hanya berperan sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga sebagai penggerak sistem yang memastikan rantai produksi pangan berjalan efektif dari hulu hingga hilir.
“Strategi yang dijalankan sudah menyerupai pendekatan bisnis modern. Program pertanian tidak lagi dipandang sebagai proyek pemerintah semata, melainkan dirancang dengan skala usaha yang jelas dan berkelanjutan,” ujar Makky dalam sebuah diskusi, Minggu (28/12/2025).
Ia menjelaskan, fokus utama kebijakan tersebut adalah menciptakan kepastian bagi pelaku usaha tani. Kepastian ini menjadi fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas, menjaga stabilitas pasokan, serta memperkuat posisi petani dalam sistem pangan nasional.
Penguatan ekosistem pangan dilakukan melalui berbagai kebijakan terintegrasi, mulai dari penyediaan pupuk dan benih, modernisasi alat mesin pertanian, hingga perbaikan infrastruktur seperti irigasi dan drainase. Pemerintah juga menjalankan program optimasi dan rehabilitasi lahan guna memastikan lahan pertanian tetap produktif di tengah tantangan perubahan iklim.
“Produktivitas bisa meningkat signifikan jika suplai air terjamin dan sistem tata kelola lahan berjalan baik, baik saat musim kemarau maupun curah hujan tinggi,” jelasnya.
Selain itu, penyederhanaan birokrasi menjadi salah satu kunci transformasi sektor pertanian. Akses petani terhadap pupuk bersubsidi, benih unggul, serta bantuan alat dan mesin pertanian kini dibuat lebih mudah dan cepat.
“Rantai layanan yang lebih pendek membuka peluang bagi petani yang sebelumnya sulit mengakses fasilitas pemerintah. Ini berdampak langsung pada peningkatan produksi dan partisipasi masyarakat,” tambah Makky.
Pemerintah juga aktif mengawal distribusi dan menjaga stabilitas harga pangan. Melalui pengelolaan cadangan pangan dan pengawasan pasar, fluktuasi harga dapat ditekan sehingga produsen dan konsumen sama-sama terlindungi.
Menurut Makky, salah satu instrumen penting lainnya adalah pemberian insentif berupa penjaminan harga hasil panen. Skema ini memberi kepastian keuntungan bagi petani, sekaligus mendorong mereka untuk terus meningkatkan produksi.
“Dengan harga yang terjamin, petani memiliki kepastian pendapatan di akhir musim tanam. Ini menjadi kunci dalam menjaga semangat produksi,” katanya.
Pendekatan berbasis ekosistem ini dinilai memiliki dampak jangka panjang, tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kepercayaan pelaku usaha tani dan regenerasi petani muda. Kebijakan tersebut diyakini mampu membentuk sektor pangan nasional yang lebih mandiri, adaptif, dan siap menghadapi tantangan global di masa depan. (Hst)















