SUMBAR, Porosjambimedia.com – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat menegaskan komitmennya untuk membawa pulang seorang PMI asal Pasaman yang mengalami penyiksaan berat saat bekerja di Malaysia.
Kasus yang menyita perhatian publik ini kembali menyoroti bahaya jalur keberangkatan nonprosedural.
Upaya pemulangan saat ini tengah diproses bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Korban diketahui masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Malaysia akibat luka-luka serius yang dideritanya.
Laporan yang diterima BP3MI mengungkapkan bahwa korban mengalami tindak kekerasan berulang, termasuk disiram air panas oleh majikan.
Kepala BP3MI Sumbar, Jupriyadi, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI untuk memantau situasi medis korban. Walaupun PMI tersebut berangkat tanpa mengikuti prosedur resmi, pemerintah memastikan perlindungan tetap diberikan melalui KBRI dan lembaga terkait.
BP3MI juga menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah Pasaman untuk memastikan keluarga korban memperoleh dukungan yang diperlukan, termasuk persiapan kepulangan korban ke tanah air.
Lembaga ini menegaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi contoh nyata risiko yang mengintai pekerja yang berangkat melalui jalur tidak resmi.
Dari hasil penelusuran, korban diketahui menuju Malaysia melalui Dumai, Riau, menggunakan jalur ilegal yang diatur oleh perusahaan tidak terdaftar. Kondisi ini menambah kerumitan proses penanganan hukum dan administrasi, namun tidak mengurangi tekad pemerintah untuk memastikan keadilan bagi korban.
Pemerintah Indonesia berharap pihak berwenang Malaysia dapat menuntaskan penyelidikan dan memberikan hukuman tegas bagi pelaku kekerasan. Komitmen lintas negara dinilai sangat penting untuk melindungi PMI dan mencegah kasus serupa terjadi kembali.
Jupriyadi kembali mengingatkan calon pekerja migran untuk selalu mengikuti jalur resmi yang telah diatur pemerintah. Keberangkatan legal memberikan jaminan perlindungan hukum, bantuan konsuler, serta pemantauan keselamatan dari negara.
Ia menekankan bahwa kejadian tragis ini harus menjadi pelajaran bersama.
Selain kasus terbaru tersebut, BP3MI Sumbar juga sebelumnya berhasil memfasilitasi pemulangan dua PMI asal Pesisir Selatan yang bermasalah di Malaysia.
Meski jumlah kasus pada 2025 relatif rendah, BP3MI menegaskan bahwa setiap insiden kekerasan terhadap PMI akan menjadi prioritas utama penanganan. (Hst)
Sumber Berita : Google.con















