DME Siap Gantikan LPG, Pemerintah Genjot Hilirisasi Batu Bara untuk Energi Nasional

- Redaksi

Minggu, 26 Oktober 2025 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Porosjambimedia.com – Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi nasional melalui pengembangan Dimethyl Ether (DME), bahan bakar alternatif yang digadang-gadang akan menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di masa depan.

Program ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi batu bara yang kini tengah difinalisasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), dengan supervisi langsung dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa DME menjadi salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis nasional yang sedang disiapkan pemerintah.

“Dari 18 proyek hilirisasi yang sedang difinalisasi di Danantara, salah satunya adalah DME. Ini langkah penting untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap LPG impor,” ujar Bahlil usai menghadiri acara Anugerah Subroto di Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi dalam negeri hanya 1,3 juta ton. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 6,5 hingga 7 juta ton LPG setiap tahun.

“Salah satu cara menekan impor adalah menciptakan substitusi energi lewat hilirisasi batu bara menjadi DME,” tambah Bahlil.

Baca Juga :  Musisi VISI dan AKSI Bertemu DPR: Konsolidasi Besar Soal Revisi UU Hak Cipta

Langkah ini tidak hanya diharapkan mampu menghemat devisa negara, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi.

Menurut data dari Kementerian ESDM, DME memiliki sifat kimia dan fisika yang mirip dengan LPG, sehingga bisa menggunakan infrastruktur tabung, penyimpanan, dan distribusi LPG yang sudah ada.

DME memiliki nilai kalor 7.749 Kcal/Kg, sedangkan LPG mencapai 12.076 Kcal/Kg. Walau nilai kalornya lebih rendah, massa jenis DME lebih tinggi, membuatnya efisien dalam pembakaran.

Dari sisi lingkungan, DME juga lebih ramah karena mudah terurai di udara dan tidak merusak lapisan ozon. Penggunaan DME dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 20%, dari 930 kg CO₂ per tahun menjadi sekitar 745 kg CO₂.

Selain itu, nyala api dari DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan sulfur atau partikulat berbahaya seperti NOx dan PM, sehingga lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan.

Baca Juga :  Menkes Pastikan Peserta PBI BPJS dengan Penyakit Kronis Tetap Aktif Tanpa Pengajuan Ulang

Kementerian ESDM melalui Balitbang ESDM telah melakukan berbagai uji terap penggunaan DME, baik murni (100%) maupun campuran (20–50%) di beberapa wilayah seperti Palembang, Muara Enim, dan Jakarta.

Uji coba terhadap lebih dari 250 rumah tangga menunjukkan hasil positif: kompor mudah dinyalakan, nyala api stabil, dan pengguna tidak kesulitan beradaptasi.

“Secara teknis, penggunaan DME 100% layak untuk rumah tangga dengan kompor khusus DME. Memang waktu memasak sedikit lebih lama, tapi secara efisiensi dan keamanan jauh lebih baik,” tulis laporan uji Balitbang ESDM.

Proyek DME menjadi simbol komitmen pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus mendorong transisi menuju energi bersih.

Dengan dukungan regulasi, investasi, dan kesiapan infrastruktur, DME diharapkan bisa menjadi energi masa depan Indonesia — aman, mandiri, dan berkelanjutan. (Hst)

Sumber Berita : detik.Com

Berita Terkait

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Perkuat Penanganan Karhutla, Jambi Dapat Tambahan Helikopter Water Bombing dari Pemerintah Pusat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT, Pendataan Jadi Prioritas
Hotspot Karhutla di Kalimantan Meningkat 4 Kali Lipat dalam Sehari
Korban Gempa M 7,7 di NTT Capai 83 Orang, Ribuan Warga Masih Terdampak
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB