Kecam Tayangan Trans7 yang Lecehkan Pesantren, Ratna Juwita Kutip Pernyataan Gus Dur

- Redaksi

Kamis, 16 Oktober 2025 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com — Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ratna Juwita Sari, melontarkan kritik keras terhadap tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 yang dianggap melecehkan kiai dan pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Menurut Ratna, tayangan tersebut mencerminkan minimnya pemahaman media terhadap tradisi dan kultur pesantren — yang selama ini menjadi pilar pendidikan moral dan karakter bangsa.

“Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi pusat pembentukan karakter, moral, dan peradaban bangsa. Tayangan semacam itu tidak hanya menyakiti hati para santri dan kiai, tetapi juga menyinggung perasaan umat Islam,” tegas Ratna dalam keterangannya, Rabu (15/10/2025).

Anggota Komisi XII DPR RI itu menilai media seharusnya berperan sebagai mitra edukatif publik, bukan malah menyebarkan stigma negatif terhadap lembaga keagamaan tradisional. Ia menyebut, banyak insan media yang belum memahami struktur nilai, adab, dan sistem kehidupan di pesantren yang telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.

“Tidak semua hal di pesantren bisa dinilai dengan cara pandang luar. Pesantren punya dunia dan nilai tersendiri yang tidak bisa dipahami hanya lewat sudut pandang sensasional,” ujarnya.

Baca Juga :  Longsor dan Jembatan Ambruk Putuskan Total Akses Bireuen–Takengon

Dalam pandangannya, Ratna mengutip pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menyebut pesantren sebagai subkultur — entitas sosial dengan sistem nilai, kebiasaan, dan cara hidup khas yang berbeda dari masyarakat umum.

“Kata Gus Dur, pesantren memiliki tiga ciri utama: kepemimpinan kiai, kehidupan bersama yang berasaskan kebersamaan, serta keseimbangan antara pendidikan agama dan umum. Inilah yang membentuk karakter bangsa yang santun dan religius,” tutur Ratna.

Ia menegaskan bahwa pesantren selama ini berperan besar dalam menjaga moralitas, menanamkan toleransi, dan memperkuat nasionalisme. Karena itu, framing negatif terhadap pesantren sama saja dengan melukai akar kebudayaan dan spiritualitas bangsa.

Ratna mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk meninjau ulang izin siar Trans7, khususnya terhadap program yang menimbulkan keresahan publik dan dianggap tidak menghormati nilai-nilai keagamaan.

“Media memiliki tanggung jawab moral. Sebelum menyiarkan sesuatu yang menyangkut institusi keagamaan, pelajari dulu konteksnya. Jangan menilai pesantren dengan kacamata sempit dan selera hiburan,” tegas Ratna.

Baca Juga :  Prabowo Tetapkan 10 Tokoh sebagai Pahlawan Nasional, Termasuk Soeharto

Lebih jauh, ia mengajak insan pers untuk membuka dialog dengan kalangan pesantren, agar media dapat menjadi jembatan pemahaman, bukan sumber kesalahpahaman.

“Daripada memframing negatif, jauh lebih bermanfaat bila media ikut memperkenalkan wajah pesantren yang sesungguhnya — tempat belajar tentang ketulusan, kemandirian, dan cinta tanah air,” ujarnya.

Ratna berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia penyiaran nasional, agar lebih berhati-hati dalam memproduksi konten publik, terutama yang menyentuh tokoh dan lembaga keagamaan.

“Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan Islam, tapi benteng moral bangsa. Media seharusnya ikut menjaga, bukan mencederai,” tutupnya. (Hst)

Editor : Hesty

Sumber Berita : fraksipkb.com

Berita Terkait

Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Perkuat Penanganan Karhutla, Jambi Dapat Tambahan Helikopter Water Bombing dari Pemerintah Pusat
Agnez Mo Curi Perhatian di Serial Reacher, Penampilan Awet Muda Jadi Sorotan Penonton Dunia
Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Rumah Korban Gempa NTT, Pendataan Jadi Prioritas
Hotspot Karhutla di Kalimantan Meningkat 4 Kali Lipat dalam Sehari
Korban Gempa M 7,7 di NTT Capai 83 Orang, Ribuan Warga Masih Terdampak
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB