Diceritakan dalam berbagai sumber, termasuk dalam Al-Quran dan kitab-kitab tafsir. Cincin tersebut hilang karena dicuri oleh jin bernama Sakhr (atau Sokhr dalam beberapa riwayat) yang menyamar sebagai Nabi Sulaiman, dan berhasil menipu Aminah, seorang pelayan yang menjaga cincin tersebut. Setelah kehilangan cincin, Nabi Sulaiman mengalami masa sulit, bahkan sempat terusir dari kerajaannya dan hidup terlunta-lunta.
Nabi Sulaiman memiliki cincin yang sakti, yang dengannya ia dapat mengendalikan jin dan hewan. Suatu ketika, Nabi Sulaiman menitipkan cincinnya pada Aminah saat hendak buang air. Saat itu, Sakhr, jin yang menyamar, berhasil mengambil cincin tersebut dari Aminah.
Dengan cincin tersebut, Sakhr berhasil menduduki singgasana Nabi Sulaiman dan memerintah kerajaan. Banyak pengikut dan jin yang tunduk padanya, mengira dia adalah Nabi Sulaiman yang asli.
Nabi Sulaiman yang asli, setelah keluar dari kamar mandi, mendapati dirinya ditolak oleh Aminah dan tidak diakui sebagai Nabi Sulaiman. Ia pun terusir dari kerajaannya dan hidup terlunta-lunta di padang pasir, merasa lapar dan haus.
Setelah 40 hari, Nabi Sulaiman bertemu dengan para nelayan dan bekerja membantu mereka. Di saat itu, salah seorang dari mereka, Ashif bin Barkhaya, memberitahukan bahwa cincin Nabi Sulaiman telah dicuri oleh jin.
Jin yang mendengar berita itu segera membuang cincin ke laut. Allah kemudian memberikan petunjuk kepada Nabi Sulaiman untuk mencari ikan yang menelan cincin tersebut. Nabi Sulaiman pun menemukan ikan itu, membelah perutnya, dan mendapatkan kembali cincinnya.
Setelah mendapatkan kembali cincinnya, Nabi Sulaiman bersujud syukur kepada Allah. Ia kemudian kembali ke kerajaannya dan diakui sebagai Nabi Sulaiman yang sah.
Kisah ini menjadi pengingat akan kekuasaan Allah dan pentingnya kesabaran serta tawakal dalam menghadapi cobaan.















