Jika Politik Itu Soal Kepentingan, Mengapa Kaum Miskin Justru Membela Oligarki 

- Redaksi

Minggu, 20 Juli 2025 - 09:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ahmad Fadillah Zurdi mahasiswa Universitas Jambi

Porosjambimedia.com,Jambi – Dalam lanskap demokrasi Indonesia, politik sering didefinisikan sebagai arena pertarungan kepentingan. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: kepentingan siapa yang sesungguhnya sedang diperjuangkan? Narasi-narasi politik hari ini lebih banyak digerakkan oleh elite yang memiliki kuasa atas modal, media, dan akses kebijakan. Ironisnya, yang paling lantang membela para elite itu justru rakyat miskin, yang paling banyak dirugikan oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat.

Kita menyaksikan realitas sosial yang absurd: rakyat yang terhimpit oleh mahalnya sembako, rendahnya upah, dan minimnya perlindungan sosial, justru menjadi garda terdepan dalam membela politisi yang duduk nyaman di kursi kekuasaan. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan rela berkonflik dengan tetangga, teman kerja, bahkan keluarganya sendiri hanya karena perbedaan pilihan politiks seolah-olah keberpihakan pada tokoh tertentu akan mengubah langsung nasib hidup mereka. Padahal yang berubah hanyalah siapa yang mencuri lebih lihai, bukan siapa yang benar-benar peduli.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari strategi penguasaan wacana oleh oligarki. Edward Said dalam Culture and Imperialism menyatakan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui paksaan, tetapi melalui produksi makna. Oligarki di Indonesia memahami hal ini dengan sangat baik. Mereka menguasai media, membentuk opini, memproduksi rasa takut, dan menyuplai harapan palsu. Mereka membuat rakyat miskin percaya bahwa satu-satunya harapan mereka terletak pada figur-figur karismatik, bukan pada sistem yang adil. Dalam struktur semacam ini, rakyat bukan hanya dimiskinkan secara ekonomi, tapi juga secara nalar.

Baca Juga :  5 Rekomendasi HP 1 Jutaan Terbaik April 2026, Spek Makin Gahar

Yang lebih tragis adalah kecenderungan rakyat untuk saling menyalahkan satu sama lain. Ketika listrik mahal, bukan pemerintah yang disalahkan, tetapi tetangga yang dianggap tidak bersyukur. Saat BBM naik, bukan kebijakan yang dituntut, tetapi sesama warga yang disebut terlalu banyak mengeluh. Buruh memusuhi buruh, pedagang memaki demonstran, sopir ojek online mencaci mahasiswa. Solidaritas kelas yang seharusnya menjadi kekuatan rakyat, justru hancur oleh adu domba sistemik yang dilanggengkan oleh para elite.

Inilah keberhasilan besar oligarki: menjadikan rakyat miskin sebagai alat pembela kekuasaan yang menindas mereka, sekaligus membuat mereka menjadi algojo terhadap sesamanya. Politik kehilangan makna sebagai alat perubahan sosial, dan berubah menjadi arena sirkus tempat rakyat bersorak bukan atas keadilan, tetapi atas ilusi kemenangan palsu.

Maka satu-satunya harapan tersisa adalah: menumbuhkan kesadaran kritis. Bukan lewat slogan “cintai negeri ini” yang hampa makna, tetapi melalui pendidikan politik yang membumi, media alternatif yang progresif, dan gerakan akar rumput yang konsisten membongkar kepalsuan. Kita tidak bisa terus mengandalkan perubahan dari atas, jika yang di atas hanya sibuk membangun dinasti dan melanggengkan status quo.

Baca Juga :  Masyarakat Renah Pemetik Terancam Kelaparan!

Izinkan penulis mengutip nilai luhur dari ajaran agama: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” Kalimat ini memang sering keluar dari lisan para penceramah, namun sesungguhnya, yang paling berpeluang menjalankan ayat tersebut bukan hanya para ustaz, melainkan para pemimpin. Karena kekuasaan lah yang memiliki kapasitas terbesar untuk membuat kebijakan yang menyentuh kehidupan orang banyak. Maka celakalah seorang pemimpin yang pandai mengutip ayat, tapi membiarkan rakyatnya kelaparan, dan mengutuk rakyatnya sendiri karena dianggap “malas bersyukur.” Sebab kepemimpinan bukanlah tempat menumpuk citra, tetapi medan pembuktian nilai.

Penulis : Ahmad Fadillah Zurdi mahasiswa Universitas Jambi

Editor : Hesty

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Mubes IV PMHKS Digelar, Irfan Hermawan Terpilih Nahkodai Kepengurusan Baru
Baru Diluncurkan, Freelander 8 Raup 5.000 Pesanan Hanya dalam 12 Jam
Himsak Kecam Gubernur Jambi: Jangan Sulap Bencana Menjadi Laporan Pencitraan di Hadapan Presiden
4 Ide Kreatif Memanfaatkan Botol Parfum Bekas agar Tak Berakhir Jadi Sampah
Berita ini 157 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB