Tambang Ditutup, Reputasi Dibuka

- Redaksi

Kamis, 12 Juni 2025 - 21:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ahmad Fadillah Zurdi – Mahasiswa Universitas Jambi

Porosjambimedia.com, JAMBI – Ketika negara yang menciptakan kerusakan tiba-tiba tampil sebagai penyelamat, kita tidak sedang menyaksikan penegakan keadilan, tapi pertunjukan busuk yang didesain dengan kalkulasi citra. Itulah yang terjadi di Raja Ampat. Pemerintah mencabut empat izin tambang, lalu secara terbuka mengklaim bahwa mereka sedang mendengar suara rakyat dan menyelamatkan bumi. Tapi tunggu sebentar bukankah izin-izin itu justru mereka keluarkan sebelumnya? Bukankah kerusakan yang terjadi sudah lama diperingatkan oleh masyarakat adat dan organisasi lingkungan?

Ini bukan kebijakan progresif. Ini adalah manuver politik yang menjijikkan: menciptakan kebakaran, lalu berpura-pura jadi petugas damkar. Bukan solusi, melainkan ilusi.

Untuk memahami betapa liciknya permainan ini, kita perlu bicara tentang teori manipulasi isu. Teori ini menjelaskan bagaimana aktor kekuasaan secara sistematis mengalihkan perhatian publik dari akar persoalan dengan menciptakan atau membingkai isu tertentu sedemikian rupa. Dalam hal ini, pencabutan izin tambang dijadikan panggung simbolik yang terlihat baik secara moral, padahal bertujuan menutupi fakta yang lebih besar: bahwa negara terlibat langsung dalam kejahatan ekologis itu.

Teori manipulasi isu ini erat kaitannya dengan Agenda Setting Theory (McCombs & Shaw, 1972), di mana media dan kekuasaan tidak mengatur apa yang harus kita pikirkan, melainkan apa yang harus kita pikirkan tentang sesuatu. Pemerintah tidak mendorong publik untuk melihat kerusakan yang telah terjadi di Raja Ampat sebagai kejahatan negara, tapi malah membingkai pencabutan izin sebagai aksi heroik. Mereka mengatur sorotan, menonjolkan satu sisi tindakan mereka, dan menyembunyikan fakta bahwa PT Gag Nikel anak perusahaan milik negara sendiri masih tetap beroperasi dan merusak lingkungan yang sama.

Baca Juga :  Bulan Madu Berakhir Tragis di Solok, Istri Tewas, Suami Kritis

Lalu muncul simbol-simbol baru: Menteri berbicara dengan narasi hijau, baliho-baliho pemerintah memuat slogan “melindungi bumi Papua”, hingga sejumlah akun media sosial pemerintah daerah ikut-ikutan mengunggah konten penyelamatan. Ini bukan upaya penyadaran; ini adalah bentuk simulasi penyelamatan, dalam istilah Jean Baudrillard: representasi palsu yang dirancang untuk menggantikan realitas dan menipu kesadaran publik.

Yang lebih menyedihkan adalah bagaimana manipulasi ini bekerja di masyarakat. Publik yang sudah lelah dengan konflik politik dan inflasi informasi menjadi sasaran empuk. Ketika satu narasi disajikan terus-menerus dan diperkuat oleh semua kanal komunikasi resmi, maka persepsi akan terbentuk: bahwa negara sedang berada di pihak yang benar. Akhirnya, kritik dianggap tidak relevan, aktivis dianggap lebay, dan yang protes dianggap radikal. Manipulasi berhasil ketika korban mulai memeluk pelaku.

Lihat bagaimana negara memainkan peran ganda: sebagai regulator, pelaku, dan sekaligus penebus. Ini adalah posisi yang mustahil secara etis, tapi mungkin dalam politik. Pemerintah menyusun narasi seolah pencabutan tambang adalah bentuk komitmen, padahal itu cuma cara mengamputasi bagian tubuh yang busuk agar kanker lebih besar tidak terlihat. Mereka mencabut empat izin, lalu menyelamatkan satu: milik sendiri. Itulah ironi paling besar dan paling memuakkan.

Baca Juga :  Polisi Usut Tuntas Karhutla di Muaro Jambi, Pemilik Lahan 189 Hektare Resmi Jadi Tersangka

Kita sedang menghadapi bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi praktik manipulasi terstruktur, sistemik, dan masif terhadap kesadaran publik. Negara tidak hanya membiarkan perusahaan merusak ekologi Raja Ampat, tapi juga dengan sadar membungkam sejarah perlawanan masyarakat adat yang sejak lama menolak tambang. Tidak ada reparasi, tidak ada pemulihan, tidak ada pengakuan. Yang ada hanya pencitraan satu arah: dari penguasa kepada publik yang dibodohi oleh narasi tunggal.

Kalau ini dibiarkan, maka ke depan setiap kejahatan akan bisa dicuci bersih hanya dengan pidato singkat, pencabutan simbolik, dan framing media. Kejahatan akan dikaburkan oleh koreografi politik yang rapi. Pelaku bisa mengklaim diri sebagai penyelamat, dan rakyat kembali menjadi penonton yang disuruh bertepuk tangan untuk pertunjukan yang tak pernah mereka setujui.

Ini bukan tentang tambang saja. Ini adalah pelajaran bahwa di negeri ini, narasi bisa lebih penting dari kenyataan. Bahwa yang menentukan kebenaran bukanlah fakta, melainkan siapa yang punya panggung. Dan sayangnya, untuk kasus Raja Ampat, panggung itu sudah lama dibeli oleh negara dan para kroninya.

Penulis : Ahmad Fadillah Zurdi - Mahasiswa Universitas Jambi

Editor : Hesty

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik, Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara
Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bakauheni
‎Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ
Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca hingga Malam
Mubes IV PMHKS Digelar, Irfan Hermawan Terpilih Nahkodai Kepengurusan Baru
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB