Di Tulis Oleh : Safwandi, Dpt (Ninik Mamak Kepalo Sembah)
Tambo tutur tidak sepenuhnya bisa dijadikan referensi sejarah
Sebuah ungkapan Melayu mengatakan : “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan Gading, Manusia mati meninggalkan Adat dan Pusako nyo“.
Pusako yang dimaksud tidak mesti selalu berupa kebendaan yang tampak seperti keris, tombak, tanah basah tanah kering (ulayat Adat) dan lainnya.
Tapi juga pada sesuatu yang tidak tampak seperti pituah Adat ataupun tutur yang mengandung pesan-pesan hikmah (Tambo tutur).
Tambo tutur merupakan pesan yang disampaikan oleh Tetua terdahulu dari generasi ke generasi. Tambo tutur bersifat lemah karena dapat berubah oleh si penuturnya. Bak sebuah ungkapan mengatakan “Menitip uang bisa berkurang, Menitip pesan dapat bertambah“.
Tambo tutur hampir sama dengan kunun yang sengaja dibumbui agar tutur menjadi menarik.
Berbeda dengan Tambo Tulisan, Dan ini bisa kita lihat disetiap Umah gedang yang ada di Dusun-Dusun tua.
Tambo ini umumnya dipelihara oleh juru kunci (Anak Batino dalam), dan disimpan di atas rumah (alang/Loteng). Tambo ini berupa sebuah tulisan yang dituliskan Tetua terdahulu melalui kulit kayu, ruas bambu, tanduk dan sebagian lagi lewat media kertas.
Menurut hemat kami, Ini dituliskan oleh Tetua terdahulu (Leluhur) sebagai sebuah pesan (wasiat) untuk diketahui oleh anak cucu mereka.
Berdasarkan Tulisan (aksara) serta media yang digunakan, dapat kita ketahui tingkatan usia Tambo tersebut, artinya mana Tambo yang lebih dahulu (Tua), tentu Tambo yang bertuliskan aksara incung Kerinci.
Adapun isi dari Tambo-tambo tersebut ialah berkenaan dengan silsilah, perjalanan Nenek moyang, Hukum Adat, Ulayat Adat dan sebagainya.
Penulis berupaya untuk berfokus pada judul di atas “Lemahnya Tambo tutur yang dapat berujung pada kesesatan sejarah“. Meskipun untuk mengkerucutkan hal ini mesti mendedahkan hal lain yang hanya sekelumit Penulis ketahui. Penulis berharap semoga saja dengan Tulisan ini sedikit bisa menambah khazanah kita. Amiin
Pada pertengahan penulisan sedikit telah diterangkan lewat sebuah istilah “Menitip uang bisa berkurang, Menitip pesan dapat bertambah”.
Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya bila yang di tuturkan oleh Tetua saat ini berkenaan dengan silsilah ataupun ulayat Adat, namun tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sudah barang tentu ini akan menimbulkan masalah baru bagi kita generasi saat ini.
Penulis tidak mengatakan bahwa tambo tutur tidak bisa dijadikan referensi sejarah, dan Tambo Tulisan 100 % kebenaran nya. Semua ini mesti di telaah secara arif dan bijaksana. Mesti di gali, di kaji dan di uji bersama para ahli. Namun setidaknya jika dibandingkan dengan Tambo lisan (Tutur), tentu Tambo Tulisan akan lebih kuat karena tidak di rubah. Jikapun berubah hanya karena tua di makan usia (usang).
Simpulan Pesan yang ingin penulis sampaikan disini adalah betapa pentingnya untuk kita mengetahui sejarah lewat pusaka (Tambo) yang merupakan wasiat dari yang terdahulu. Khususnya bagi generasi muda sebagai pewaris sejarah.
“Patah tumbuh hilang berganti
Hilang Tuo baganti mudo”
“Hilang Tambo hilang Arah
Hilang Tutu hilang Tabano”. Begitulah pesan Arif Leluhur kita dahulu untuk jadi ingatan.
Penulis Merupakan (Sekjend Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci – LAMSAK) dan juga Budayawan
Penulis : Safwandi, Dpt (Ninik Mamak Kepalo Sembah)
Sumber Berita : Porosjambimedia.com















