KERINCI, Porosjambimedia.com— Air adalah tubuh bumi yang berdenyut bersama kehidupan. Di setiap tetesnya tersimpan doa leluhur dan napas dari hutan yang dulu hijau, dari sungai yang dulu jernih, serta dari tanah yang dulu ramah. Namun kini, gema alam kian sayup, tertutup suara mesin dan kerusakan akibat aktivitas manusia.
Film MANTAGI karya sutradara Taufiq Hidayat Rusti lahir dari kegelisahan tersebut—dari luka yang mengalir di tubuh air dan dari kesedihan bumi yang tak mampu lagi menampung air matanya sendiri.
Pesan mendalam tersebut teraa semakin dekat ketika siswa-siswi SMA Negeri 4 Kerinci berkesempatan menyaksikan pemutaran film MANTAGI di Hall Koto Kapeh. Dengan penuh antusias, para siswa hadir didampingi oleh guru untuk mengikuti kegiatan menonton bersama. Pemutaran ini dikemas bukan sekadar sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai bagian dari pengalaman belajar yang bermakna.
“Ini bukan sekadar tontonan biasa,” ujar Kepala SMAN 4 Kerinci, Nelly Afrianty, S.Si., M.Pd., dalam sambutan dan arahannya sebelum film ditayangkan.
Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa sebuah film dapat menjadi ruang belajar yang efektif. Melalui MANTAGI, siswa tidak hanya diajak mengikuti alur cerita, tetapi juga diajak membaca persoalan lingkungan secara lebih kritis: memahami penyebab kerusakan alam, dampaknya terhadap kehidupan manusia, serta sejauh mana perilaku manusia menentukan keberlanjutan lingkungan.
Untuk memperkuat pengalaman belajar tersebut, guru Bahasa Indonesia turut menyiapkan tugas khusus bagi para siswa. Siswa diminta mencermati alur cerita, menganalisis kelebihan dan kekurangan film, serta menentukan pesan moral yang disampaikan. Dengan demikian, kegiatan menonton berubah menjadi proses mengamati, memahami, menganalisis, dan merefleksikan.
Lebih dari itu, film ini membuka ruang bagi siswa untuk memahami filosofi kebudayaan secara lebih mendalam. Alam dan budaya tidak berdiri sendiri; keduanya tumbuh dalam hubungan yang saling menghidupi. Ketika alam rusak, bukan hanya ekosistem yang kehilangan keseimbangannya, tetapi juga sebagian jejak pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Suasana penayangan semakin menarik karena dihadiri langsung oleh beberapa tokoh utama dalam film, di antaranya Mr. X, Nantan, serta sang sutradara, Taufiq Hidayat Rusti. Kehadiran mereka memberikan kesempatan berharga bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam proses lahirnya MANTAGI.
Setelah film selesai diputar, suasana ruang Hall Koto Kapeh justru semakin hidup saat sesi diskusi dan tanya jawab dimulai. Pertanyaan, tanggapan, dan rasa ingin tahu siswa mengalir dengan hangat. Dialog antara siswa, guru, dan para narasumber membuat pengalaman menonton menjadi lebih utuh—bukan hanya melihat cerita, tetapi mencoba memahami makna di balik cerita yang disajikan.
Pada akhirnya, MANTAGI mengingatkan bahwa persoalan lingkungan bukanlah cerita yang jauh dari kehidupan. Sungai yang mengalir, hutan yang meunaungi, tanah tempat berpijak, dan air yang digunakan sehari-hari adalah bagian dari kehidupan kita sendiri.
Melalui kegiatan ini, siswa SMAN 4 Kerinci belajar untuk tidak hanya menonton alam, tetapi juga mendengar, memahami, dan menjaganya demi masa depan. (Hst)















