JAKARTA, Porosjambimedia.com – Duka menyelimuti kegiatan kemanusiaan di tengah penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Ahmad Zaki Ali, relawan sekaligus pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal dunia ketika sedang menjalankan tugas membantu warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (21/8/2026).
Pria yang akrab disapa Bang Jek itu diketahui berasal dari Jakarta. Ia bersama tim relawan telah berada di wilayah terdampak sejak 16 Agustus 2026, sehari setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores dan sejumlah wilayah di NTT.
Selama berada di lokasi bencana, Zaki terlibat dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat yang terdampak. Ia bersama tim mendatangi sejumlah wilayah untuk memastikan bantuan logistik dapat diterima warga.
Meninggal Saat Dalam Perjalanan Mengantar Bantuan
Kabar meninggalnya Zaki disampaikan aparat kepolisian setempat. Kapolsek Lamba Leda Utara Iptu Ida Bagus Susana Adi Negara menyebut Zaki meninggal akibat serangan jantung.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Zaki bersama sejumlah rekannya hendak mengantarkan bantuan dari Posko Relawan Gerak Bareng di Masjid Nurul Huda, Kampung Reo, menuju wilayah Desa Satar Padut dan sekitarnya.
Sekitar pukul 14.00 Wita, rombongan berangkat menggunakan kendaraan dengan Zaki berada di balik kemudi. Dalam perjalanan, ia kemudian menghentikan kendaraan dan meminta rekan-rekannya membantu melepas jaket serta helm yang dikenakannya.
Tidak lama setelah itu, Zaki kehilangan kesadaran. Rekan-rekannya segera memberikan pertolongan dan membawanya ke posko medis di wilayah Damer.
Setelah mendapat pemeriksaan dari tenaga medis, Zaki dinyatakan meninggal dunia. Jenazah kemudian dibawa kembali ke Masjid Nurul Huda di Reo sekitar pukul 17.20 Wita sebelum direncanakan dipulangkan ke Jakarta.
Unggahan Terakhir Berisi Aktivitas Kemanusiaan
Sebelum meninggal dunia, Zaki masih aktif membagikan kegiatan kemanusiaannya melalui media sosial. Dalam salah satu unggahan terakhir, ia menyampaikan bahwa dirinya telah memasuki hari keenam berada di NTT.
Bersama tim, Zaki menyebut sebagian besar bantuan yang dipercayakan kepada mereka telah disalurkan kepada ratusan keluarga yang membutuhkan. Ia juga sempat menginformasikan kondisi logistik yang mulai menipis di tengah kebutuhan warga yang masih tinggi.
Unggahan tersebut kembali menjadi perhatian setelah kabar meninggalnya Zaki beredar. Sejumlah relawan dan komunitas kemanusiaan menyampaikan penghormatan sekaligus belasungkawa atas kepergiannya.
Dedikasinya sebagai relawan yang datang dari Jakarta dan memilih menghabiskan hari-hari terakhirnya untuk membantu masyarakat terdampak bencana juga mendapat perhatian luas dari warganet.
Berbagai doa dan ucapan duka disampaikan melalui media sosial. Banyak yang mengenang Zaki sebagai sosok yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membantu korban bencana.
Gempa NTT Tinggalkan Duka Mendalam
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Bencana tersebut juga memaksa banyak warga meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Hingga Jumat (21/8/2026), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 83 orang, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Lebih dari 100 ribu warga juga dilaporkan mengungsi akibat dampak gempa.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak cukup besar. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan para relawan menjadi bagian penting dalam membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Kepergian Ahmad Zaki di tengah misi kemanusiaan meninggalkan duka bagi keluarga, rekan-rekan relawan, serta masyarakat yang menerima bantuan. Dedikasinya selama berada di wilayah bencana menjadi bagian dari kisah kemanusiaan dalam penanganan gempa NTT. (Hst)















