Kerinci,Porosjambimedia.com– Semangat literasi terus tumbuh di lingkungan SMAN 4 Kerinci melalui keberadaan Perpustakaan Tutung Pelita yang kini menjadi pusat pengembangan budaya membaca, menulis, dan numerasi bagi seluruh warga sekolah.
Momentum Hari Perpustakaan Nasional ke-46 dan Hari Buku Nasional yang diperingati pada 17 Mei 2026 menjadi pengingat pentingnya budaya literasi sebagai fondasi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Melalui buletin sekolah edisi 17 Mei 2026, Perpustakaan Tutung Pelita disebut sebagai “jantung sekolah” yang terus memompa semangat belajar dan kreativitas siswa.
Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar yang nyaman, inspiratif, dan aktif mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Kepala Sekolah Nelly Arianty menyampaikan bahwa budaya literasi menjadi salah satu fokus penting dalam membangun kualitas pendidikan di sekolah.
Setiap hari, perpustakaan dimanfaatkan siswa untuk membaca, berdiskusi, mencari referensi pembelajaran, hingga mengembangkan kreativitas melalui berbagai kegiatan akademik.
Sebagai bentuk nyata peringatan Hari Perpusnas dan Hari Buku Nasional 2026, SMAN 4 Kerinci juga menggelar kegiatan “Membaca Bersama” yang dilaksanakan usai upacara bendera.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh siswa membaca buku secara serentak selama satu jam pelajaran dengan pendampingan guru di masing-masing kelas.
Kegiatan itu menjadi simbol bahwa budaya membaca bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi juga kebiasaan positif yang harus ditanamkan bersama di lingkungan sekolah.
Tidak hanya menggerakkan budaya membaca, Perpustakaan Tutung Pelita juga aktif mendorong siswa menghasilkan karya tulis.
Hal tersebut dibuktikan dengan terbitnya dua buku antologi cerpen bernuansa budaya lokal Kerinci, yakni “Jejak Tradisi di Tanah Sakti” pada tahun 2025 dan “Suara dari Larik Tua” pada tahun 2026.
Karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi dapat menjadi sarana pelestarian budaya daerah sekaligus ruang ekspresi generasi muda.
Gerakan literasi juga melibatkan para guru. Salah satu karya yang berhasil diterbitkan adalah buku “Belajar dari Bumi Sakti Alam Kerinci” yang mengangkat integrasi kearifan lokal dalam proses pembelajaran.
Melalui berbagai program dan karya yang dihasilkan, Perpustakaan Tutung Pelita terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan literasi dan numerasi di SMAN 4 Kerinci.
Sekolah berharap budaya membaca dan menulis dapat terus tumbuh sehingga melahirkan generasi pembelajar yang kreatif, berkarakter, serta mampu menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman. (Hst)















