Jakarta, Porosjambimedia.com -Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tambahan anggaran pendidikan sebesar Rp 181 triliun yang diajukan pemerintah tidak diperuntukkan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, Anggaran Belanja Tambahan (ABT) yang diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia saat ini masih menunggu keputusan. Ia menegaskan bahwa dana tambahan tersebut memiliki kebutuhan yang mendesak bagi sektor pendidikan.
Tambahan anggaran tersebut akan digunakan untuk revitalisasi sekitar 20 ribu satuan pendidikan di berbagai daerah. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk penambahan perangkat teknologi pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP) bagi sekitar 325 ribu sekolah di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa program MBG memang berkaitan dengan dunia pendidikan, namun tidak menjadi bagian dari penggunaan tambahan anggaran tersebut. Program tersebut merupakan bagian dari implementasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang bertujuan membentuk karakter siswa.
Tujuh kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Program ini juga menjadi bagian dari upaya penanaman nilai disiplin, kebersihan, tata krama, dan nilai sosial di lingkungan sekolah.
Sebelumnya, kajian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa program MBG turut memberikan dampak positif terhadap motivasi belajar siswa serta membantu pemenuhan kebutuhan gizi mereka.
Data dari Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen menyebutkan distribusi program MBG telah menjangkau sekitar 288.845 sekolah dari total 434.812 sekolah di Indonesia. Artinya, program tersebut telah mencapai sekitar 66,5 persen dari keseluruhan sekolah.
Sementara itu, jumlah penerima manfaat program ini telah mencapai sekitar 49,6 juta siswa dari target 53,39 juta siswa. Dengan capaian tersebut, distribusi program MBG sudah menyentuh sekitar 93 persen dari target nasional. (Khy)















