Porosjambimedia.com– Setiap tahun, rumah sakit di Provinsi Yunnan, China, menghadapi gelombang pasien dengan keluhan yang tak lazim. Mereka datang dengan kondisi fisik relatif stabil, tetapi mengalami gangguan persepsi yang ekstrem: melihat makhluk-makhluk kecil menyerupai kurcaci berkeliaran di sekitar mereka.
Para pasien mengaku melihat sosok mungil itu merayap di dinding, berjalan di bawah pintu, bahkan menempel pada pakaian dan perabotan. Fenomena ini bukan gangguan kejiwaan biasa. Dokter menemukan satu penyebab yang sama pada ratusan kasus tersebut, yakni konsumsi jamur bernama Lanmaoa asiatica.
Jamur ini tumbuh secara alami di hutan pinus sekitar Yunnan dan menjadi bahan makanan favorit warga setempat karena rasanya yang gurih dan kaya umami. Selama musim panen antara Juni hingga Agustus, jamur ini dijual bebas di pasar tradisional, disajikan di restoran, hingga dimasak di rumah.
Namun, jika tidak dimasak dengan sempurna, jamur tersebut dapat memicu halusinasi berat. Efeknya bahkan sudah menjadi “pengetahuan umum” di kalangan warga lokal.
“Di restoran hot pot jamur, pelayan selalu memasang timer 15 menit dan memperingatkan agar tidak menyentuh jamur sebelum waktunya habis. Kalau melanggar, risikonya bisa melihat makhluk kecil,” ujar Colin Domnauer, kandidat doktor biologi dari Universitas Utah.
Domnauer kini meneliti jamur tersebut untuk mengungkap senyawa kimia yang bertanggung jawab atas halusinasi ekstrem yang disebut halusinasi lilliputian. Istilah ini merujuk pada kondisi langka di mana seseorang melihat manusia atau hewan berukuran sangat kecil, terinspirasi dari tokoh Pulau Lilliput dalam novel Gulliver’s Travels.
Fenomena serupa pernah dicatat sejak 1960-an di Papua Nugini dan Filipina. Namun, penelitian kala itu terhenti karena senyawa penyebabnya belum berhasil diidentifikasi. Baru pada 2015, L. asiatica resmi diklasifikasikan sebagai spesies tersendiri, meski sifat psikoaktifnya masih menjadi misteri.
Dalam riset terbaru, ekstrak jamur ini terbukti memicu perubahan perilaku signifikan pada tikus percobaan. Hewan-hewan tersebut mengalami fase hiperaktif, lalu diikuti kondisi lemas berkepanjangan. Pada manusia, efek halusinasi dilaporkan bisa bertahan 12 hingga 24 jam, bahkan memicu rawat inap hingga berhari-hari.
Menariknya, tidak seperti jamur psikedelik lain, halusinasi akibat L. asiatica cenderung sangat konsisten. Hampir semua pasien melaporkan penglihatan yang sama: makhluk kecil yang bergerak aktif di sekitar mereka.
Para peneliti percaya, mengungkap misteri jamur ini dapat membantu memahami cara kerja otak manusia, khususnya terkait halusinasi spontan yang juga dapat terjadi tanpa konsumsi zat apa pun. Studi ini bahkan berpotensi membuka jalan bagi pengobatan gangguan neurologis tertentu di masa depan. (Dta)















