Tokyo, Porosjambiemdia.com— Industri pariwisata Jepang mencetak sejarah baru sepanjang tahun 2025. Meski mengalami penurunan signifikan dari pasar wisatawan China, Negeri Sakura tetap berhasil mencatat 42,7 juta kunjungan turis asing, melampaui rekor tahun sebelumnya yang berada di angka 37 juta kunjungan.
Berdasarkan laporan Kementerian Transportasi Jepang, capaian ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Jepang menembus angka 40 juta orang dalam satu tahun.
Kekhawatiran sempat muncul menyusul memburuknya hubungan diplomatik Jepang dan China sejak November 2025. Situasi tersebut berdampak langsung pada sektor pariwisata, setelah pemerintah China membatasi perjalanan warganya ke Jepang. Padahal, wisatawan asal China selama ini menjadi kontributor terbesar kunjungan asing sekaligus dikenal memiliki tingkat belanja yang tinggi.
Dalam sembilan bulan pertama 2025, jumlah turis China sempat mencapai hampir 7,5 juta orang, atau sekitar seperempat dari total wisatawan asing. Namun tren itu berbalik di akhir tahun. Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan jumlah turis China turun drastis menjadi 330.300 orang, dari sebelumnya 562.600 orang pada November dan 715.700 orang pada Oktober.
Meski demikian, Menteri Transportasi Jepang Yasushi Kaneko menegaskan penurunan tersebut berhasil ditutup oleh lonjakan wisatawan dari kawasan lain. Kunjungan dari Australia, negara-negara Eropa, serta Amerika Serikat mengalami peningkatan signifikan dan menjadi penopang utama pertumbuhan pariwisata.
“Walaupun jumlah wisatawan dari China menurun pada Desember, kami berhasil menarik pengunjung dari berbagai negara dan wilayah lain untuk menjaga pertumbuhan,” ujar Kaneko.
Ia juga menyampaikan harapan agar wisatawan asal China dapat kembali berkunjung dalam waktu dekat, seiring membaiknya situasi hubungan bilateral.
Keberhasilan ini tak lepas dari strategi promosi besar-besaran yang dilakukan pemerintah Jepang. Ke depan, Jepang memasang target ambisius dengan membidik 60 juta wisatawan per tahun pada 2030.
Namun, lonjakan kunjungan ini juga memunculkan tantangan baru. Pemerintah kini dihadapkan pada persoalan overtourism, terutama di destinasi populer seperti Kyoto dan Gunung Fuji. Kepadatan wisatawan serta perilaku turis yang dinilai mengganggu kenyamanan warga lokal menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. ( Dta)















