JAMBI, Porosjambimedia.com – Pemerintah Kota Jambi menetapkan status siaga darurat banjir menyusul meningkatnya debit Sungai Batanghari akibat curah hujan tinggi yang terus mengguyur wilayah Provinsi Jambi dalam beberapa pekan terakhir. Status siaga ini diberlakukan hingga 31 Januari 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi banjir kiriman dari daerah hulu.
Penetapan status siaga tersebut diputuskan melalui rapat koordinasi lintas sektor yang melibatkan instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi.
Pemerintah daerah menilai kondisi cuaca dan hidrologi saat ini membutuhkan kesiapsiagaan penuh untuk meminimalkan risiko kerugian dan dampak terhadap masyarakat.
Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengatakan bahwa berdasarkan pemantauan alat ukur, Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Batanghari telah mencapai 12,45 meter. Angka ini dinilai cukup rawan dan berpotensi terus meningkat apabila hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi, khususnya di wilayah hulu sungai
“Kami fokus mengantisipasi kemungkinan air kiriman dari hulu Sungai Batanghari. Kondisi ini harus diwaspadai karena dapat menyebabkan luapan air ke permukiman warga,” ujar Doni, Rabu (14/1/2026).
BPBD Kota Jambi saat ini memberikan perhatian khusus pada empat kecamatan yang masuk kategori rawan banjir, yakni Kecamatan Danau Teluk, Pelayangan, Jambi Timur, dan Telanaipura. Keempat wilayah tersebut dinilai paling berpotensi terdampak apabila debit sungai kembali mengalami peningkatan signifikan.
Meski demikian, Doni menyebutkan bahwa berdasarkan laporan camat dan pemantauan lapangan, kondisi permukiman warga masih relatif terkendali. Aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah rawan banjir sejauh ini masih dapat berjalan normal.
Selain banjir kiriman, BPBD juga mewaspadai potensi hujan lokal berdurasi panjang. Apabila hujan lokal terjadi bersamaan dengan puncak debit Sungai Batanghari, maka risiko genangan dan banjir di wilayah rendah akan semakin besar karena aliran air tertahan dan meluap ke daratan.
Di sisi lain, masyarakat yang bermukim di bantaran sungai, khususnya di kawasan seberang Kota Jambi, cenderung bersikap lebih tenang menghadapi situasi tersebut.
Qodri, warga Kelurahan Tanjung Pasir, mengaku telah terbiasa dengan kondisi banjir yang hampir setiap tahun terjadi.
“Bagi kami yang tinggal di seberang, banjir ini sudah jadi bagian dari kehidupan. Rumah kami panggung, jadi tidak terlalu khawatir,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa pengalaman banjir besar pada tahun 2003 menjadi pelajaran berharga bagi warga setempat. Saat itu, air Sungai Batanghari sempat naik hingga merendam rumah panggung.
Sejak kejadian tersebut, warga semakin siap menghadapi banjir dengan berbagai langkah antisipasi mandiri.
Pada awal tahun 2026 ini, sejumlah wilayah seperti Ulu Gedong, Olak Kemang, dan Tanjung Pasir mulai tergenang air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari setinggi mata kaki hingga lutut orang dewasa.
Namun, warga menilai kondisi tersebut masih dalam batas normal.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, hampir setiap rumah di bantaran sungai telah menyiapkan perahu kayu atau sampan yang digunakan sebagai alat transportasi alternatif ketika akses jalan darat terputus akibat genangan.
“Untuk kondisi sekarang, masih belum mengkhawatirkan. Aktivitas warga masih berjalan seperti biasa,” pungkas Qodri.
Pemerintah Kota Jambi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari pemerintah, serta segera melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi peningkatan debit air atau kondisi darurat di lingkungan masing-masing. (Hst)















