Jakarta, Porosjambimedia.com – Kebiasaan yang tampak sepele ternyata bisa berujung fatal. Seorang pria berusia sekitar 50 tahun di Taiwan harus menerima kenyataan pahit setelah didiagnosis gagal ginjal stadium akhir, meski selama ini dikenal aktif berolahraga dan tidak memiliki penyakit bawaan.
Kasus ini terungkap setelah pria tersebut tiba-tiba pingsan saat berlari pagi, lalu dilarikan ke rumah sakit. Pemeriksaan medis menunjukkan fungsi ginjalnya sudah berada pada kondisi kritis, dengan nilai laju filtrasi glomerulus (GFR) di bawah 10, menandakan kerusakan ginjal berat.
Dokter spesialis ginjal Dr Hung Yung-hsiang, yang menangani pasien tersebut, mengungkap fakta mengejutkan di balik penyebab penyakitnya. Pasien diketahui memiliki kebiasaan menyeduh kopi dari biji kopi lama yang telah berjamur dan membusuk, dilakukan secara rutin selama bertahun-tahun.
Pria itu kerap membeli biji kopi dalam jumlah besar karena harga lebih murah, lalu menyimpannya lama di dapur. Meski biji kopi berubah warna dan ditumbuhi jamur, ia tetap menggiling dan menyeduhnya. Ia beranggapan bahwa air panas saat menyeduh kopi sudah cukup untuk membunuh kuman berbahaya.
Namun, anggapan tersebut ternyata keliru. Dr Hung menjelaskan bahwa jamur pada biji kopi dapat menghasilkan okratoksin, racun berbahaya yang tahan panas dan tidak hancur meski diseduh dengan air mendidih bersuhu 100 derajat Celsius.
“Okratoksin baru bisa terurai pada suhu di atas 280 derajat Celsius, yang jelas tidak mungkin dicapai saat proses menyeduh kopi,” jelasnya.
Paparan okratoksin secara terus-menerus menyebabkan toksin menumpuk di dalam tubuh dan secara perlahan merusak ginjal. Efeknya tidak langsung terasa, sehingga sering kali luput disadari.
Sebelum kolaps, pasien sebenarnya sudah mengalami tanda-tanda gangguan ginjal seperti urine berbusa berkepanjangan dan pembengkakan di pergelangan kaki. Namun, keluhan tersebut diabaikan karena dianggap sebagai efek samping dari olahraga berat.
Dr Hung menggambarkan okratoksin sebagai “racun waktu tunda”. Berbeda dengan racun makanan yang cepat dikeluarkan tubuh, zat ini dapat bertahan hingga 35–50 hari di dalam tubuh dan menyebabkan peradangan, kematian sel ginjal, hingga fibrosis kronis.
Ia mengibaratkan paparan okratoksin seperti menuangkan semen ke dalam sistem penyaring air—perlahan menyumbat dan merusak ginjal secara permanen.
Dari kasus ini, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang menunjukkan tanda-tanda berjamur, terutama di lingkungan panas dan lembap yang mempercepat pertumbuhan jamur. Mengutamakan keamanan pangan dinilai jauh lebih penting daripada sekadar menghemat biaya. (Ai)















