Porosjambimedia.com – Setiap tahun pada 20 November, masyarakat global memperingati Hari Anak Sedunia, sebuah momentum yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bentuk penghormatan terhadap hak-hak anak di seluruh dunia. Tahun ini, perayaan tersebut jatuh pada Kamis, 20 November 2025 dan kembali menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi generasi muda.
Namun, Hari Anak Sedunia bukan satu-satunya peringatan yang mengangkat isu perlindungan anak. Di berbagai negara, terdapat pula Hari Anak Internasional yang diperingati pada 1 Juni, meskipun tanggal ini tidak berlaku universal. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, bahkan memilih tanggal yang berbeda, seperti Minggu kedua bulan Juni.
Asal-Usul Dua Tanggal Berbeda
Penetapan Hari Anak Sedunia berakar dari keputusan Majelis Umum PBB. Pada 20 November 1959, PBB mengumumkan Deklarasi Hak-Hak Anak, yang kemudian diperkuat pada 20 November 1989 melalui pengesahan Konvensi Hak Anak. Dua momen penting ini menjadikan 20 November sebagai tanggal yang dipandang memiliki nilai historis mendalam.
Di sisi lain, Hari Anak Internasional muncul jauh lebih awal. Tanggal 1 Juni dipilih pada 1949 oleh Federasi Demokrasi Internasional Perempuan di Moskow sebagai bentuk reaksi terhadap berbagai perlakuan buruk terhadap anak-anak selama masa perang dan perubahan sosial besar dunia. Perayaan ini kemudian menyebar ke banyak negara, terutama di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah.
Tujuan Peringatan yang Tidak Sama
Walau sama-sama menyoroti hak anak, kedua perayaan ini memiliki fokus yang berbeda.
• Hari Anak Sedunia menekankan pada upaya global untuk memberi anak-anak lingkungan yang aman, menjamin hak fundamental mereka, dan memastikan suara mereka didengar.
• Hari Anak Internasional lebih menyoroti isu perlindungan dari eksploitasi, penghapusan pekerja anak, serta akses pendidikan setara bagi setiap anak.
Akar Sejarah Gerakan Perlindungan Anak
Peringatan terhadap anak bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum penetapan PBB, berbagai kelompok sosial telah menyuarakan pentingnya perlindungan anak. Salah satu peristiwa awal tercatat pada 1856, ketika Pendeta Charles Leonard di Massachusetts menyelenggarakan kebaktian khusus untuk anak-anak. Tradisi ini kemudian berkembang, meski tidak pernah menjadi kebijakan nasional resmi di Amerika Serikat.
Kini, Hari Anak Internasional 1 Juni diperingati di banyak negara, termasuk Armenia, Belarus, Latvia, Rusia, Estonia, Kazakhstan, hingga Uzbekistan. Setiap negara mengabadikan perayaan ini dengan cara yang berbeda, namun tetap berlandaskan upaya melindungi anak sebagai aset masa depan bangsa.
Dua peringatan ini—meski berbeda sejarah dan tanggal—sama-sama menegaskan bahwa setiap anak berhak tumbuh aman, sehat, dan bahagia. (Hst)
Sumber Berita : Kompas.com















