Porosjambimedia.com – Penutupan sementara (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS) menimbulkan dampak besar pada sektor penerbangan komersial. Ketika ribuan penerbangan mengalami penundaan dan pembatalan, permintaan terhadap layanan jet pribadi melonjak tajam.
Andrew Collins, CEO Flexjet, perusahaan penyedia layanan sewa dan kepemilikan jet pribadi, menyatakan bahwa permintaan terus meningkat seiring meluasnya gangguan pada penerbangan komersial akibat kekurangan tenaga kerja di sektor kontrol lalu lintas udara.
Menurut data FlightAware, lebih dari 17.000 penerbangan komersial di AS mengalami penundaan selama akhir pekan, dengan ratusan penerbangan lainnya dibatalkan. Para pengendali lalu lintas udara dilaporkan bekerja tanpa gaji sejak shutdown dimulai pada 1 Oktober, memperparah kondisi operasional di bandara utama.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintahan Trump meminta maskapai memangkas jadwal penerbangan hingga 4% di 40 bandara utama, bahkan berpotensi mencapai 10% pada akhir pekan. Situasi ini mendorong banyak pelancong beralih menggunakan jet pribadi sebagai alternatif perjalanan yang lebih pasti dan fleksibel.
Flexjet mencatat lonjakan signifikan:
- 42% peningkatan jam terbang berbayar dalam tujuh hari pertama November dibandingkan periode sama tahun lalu.
- 23% kenaikan jam terbang pada Oktober dibandingkan 2024.
- Unit bisnis FXAIR mengalami pertumbuhan 56% dalam jam pendapatan pada bulan yang sama.
Unit Sentient Jet dari Flexjet, yang menyediakan layanan kartu penerbangan eksklusif dengan harga mulai dari USD 174.375 atau sekitar Rp 2,9 miliar untuk 25 jam penerbangan, juga mengalami lonjakan pemesanan sebesar 24% dibanding tahun sebelumnya.
Namun Collins menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa peningkatan ini sepenuhnya disebabkan oleh shutdown. Banyak pengguna, katanya, melakukan pemesanan mendadak—bahkan hanya 10 jam sebelum keberangkatan.
Di sisi lain, Federal Aviation Administration (FAA) berencana membatasi lalu lintas jet pribadi di 12 bandara utama, tetapi pembatasan ini tidak berlaku seketat maskapai komersial. Jet bisnis memiliki fleksibilitas tinggi karena dapat menggunakan bandara-bandara sekunder, sehingga tidak memperparah kepadatan di bandara besar.
Dengan ketidakpastian yang melanda sektor penerbangan komersial, semakin banyak pelancong memilih jet pribadi sebagai solusi agar perjalanan tetap lancar tanpa gangguan, meskipun pemerintahan AS belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membuka kembali operasional secara penuh. (Hst)
Sumber Berita : Liputan6.com















