POROSJAMBIMEDIA.COM – Aksara Incung adalah sistem aksara yang digunakan oleh Suku Kerinci di Jambi, Indonesia, dan merupakan salah satu aksara lokal di Sumatera Tengah.
Aksara ini diperkirakan berasal dari abad ke-4 M (Masehi) dan merupakan turunan dari aksara Sumatera Kuno atau aksara Pasca Pallawa yang berakar dari aksara Brahmik India.
Aksara Incung digunakan untuk mendokumentasikan berbagai aspek kehidupan Suku Kerinci, termasuk sejarah, hukum adat, sastra, dan mantra-mantra.
Aksara Incung adalah turunan dari aksara Sumatera Kuno, yang juga dikenal sebagai aksara Pasca Pallawa. Aksara ini berakar dari aksara Brahmik yang digunakan di India.
Di Sumatera, turunan aksara Pasca Pallawa dikenal sebagai kelompok aksara Rencong, yang terbagi menjadi tiga sub-kelompok yang terdiri dari: Surat Incung (Kerinci), Surat Ulu (Bengkulu dan Sumatera Selatan), dan Surat Lampung.
Diperkirakan Aksara Incung telah digunakan selama lebih dari ratusan tahun, bahkan sejak abad ke-4 Masehi.
Aksara Incung digunakan untuk menuliskan sejarah, hukum adat, sastra, dan mantra-mantra.
Pada masa lalu, aksara ini ditulis pada berbagai media seperti kulit kayu, tanduk kerbau, daun lontar, dan juga batu.
Aksara Incung dalam bahasa Kerinci berarti “miring” atau “terpancung”, karena bentuk hurufnya yang terdiri dari garis lurus, patah, dan melengkung.
Aksara Incung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Jambi.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk melestarikan Aksara Incung, termasuk memperkenalkan kembali dalam bentuk batik dan media lain, serta mengadakan pelatihan menulis dan membaca aksara tersebut.















