POROSJAMBIMEDIA.COM – Naskah kuno Nusantara merujuk pada berbagai dokumen tertulis yang berusia tua dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta intelektual tinggi yang ditemukan di wilayah Nusantara (Indonesia). Naskah-naskah ini menjadi sumber informasi penting tentang peradaban, pengetahuan, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia di masa lalu.
Bahan pembuatan naskah kuno inipun sangat beragam, mencakup daun lontar, kulit kayu, daluang, kertas Eropa, perkamen, dan lainnya. Pilihan bahan ini seringkali dipengaruhi oleh ketersediaan, jenis tulisan, dan nilai budaya dari naskah tersebut.
Bukan hanya bahan ataupun media tempat dituliskannya naskah itu yang beragam, tapi juga tulisan (aksara) yang digunakan pun mempunyai keragaman.
Adanya Aksara incung Kerinci itu sendiri, aksara jawa lama, dan juga aksara Arab gundul (arab Melayu).
Menurut seorang Pemerhati Adat, Budaya dan sejarah Kerinci Andodias rapuan Menyebutkan, Setiap periode sejarah biasanya ditandai dengan penggunaan jenis aksara tertentu.
“Naskah yang bertuliskan huruf incung itu lebih awal dituliskan dibandingkan naskah arab Melayu. Artinya, itu menunjukkan adanya perbedaan tahun (Periodisasisejarah),” Terang Andodias.
aksara kuno (incung) yang digunakan oleh suku Kerinci, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Aksara ini diperkirakan telah digunakan sejak abad ke-4 Masehi, meskipun bukti pasti mengenai awal kemunculannya masih belum jelas. Aksara ini merupakan turunan dari Aksara Sumatera Kuno atau Aksara Pasca Pallawa, yang berakar dari Aksara Brahmik India.
Namun sangat kita sayangkan, karena pada saat ini sangat sedikit dari masyarakat Kerinci yang pandai membaca aksara incung, Padahal Tambo merupakan jendela untuk belajar memahami masa lalu, adat istiadat, dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Kerinci yang sudah diwariskan oleh leluhur Kerinci tatkala dahulunya.
Tambo bukan saja menunjukkan tentang identitas diri suatu suku bangsa, juga merupakan bukti kekayaan budaya dan sejarah masyarakat yang bernilai tinggi.















