Bahasa Kias Kerinci, Identitas Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

- Redaksi

Jumat, 22 Mei 2026 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi., Dpt (Kepalo Sembah)

Porosjambimedia.com – Bagi masyarakat Kerinci, tutur kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan cerminan adat, martabat, dan kepribadian seseorang. Dalam kehidupan masyarakat adat Kerinci sejak dahulu, setiap ucapan selalu dijaga dengan penuh kehati-hatian. Karena itu, leluhur Kerinci mewariskan tradisi bertutur menggunakan bahasa kias, perumpamaan, petatah-petitih, dan ungkapan adat yang mengandung makna mendalam.

“Manusio menangkap kias binatang menangkap pukul”.

Tradisi ini lahir dari cara pandang masyarakat Kerinci yang menjunjung tinggi kesopanan dan keharmonisan sosial. Orang tua dahulu mengajarkan bahwa kata-kata dapat menjadi penyejuk, tetapi juga dapat menjadi sumber perselisihan apabila diucapkan tanpa pertimbangan.

Tikam seribu tidak membunuh tikam seliang dibao mati”

Oleh sebab itu, menyampaikan nasihat, teguran, maupun kritik dilakukan dengan cara halus melalui bahasa kias agar tidak melukai hati orang lain.

Dalam adat Kerinci dikenal prinsip bahwa berbicara harus “bertimbang rasa”. Direnung dulu baru bicaro.

Maksudnya, setiap ucapan harus memperhatikan perasaan, kedudukan, dan situasi orang yang diajak berbicara. Karena itu, masyarakat Kerinci tidak terbiasa menyampaikan sesuatu secara kasar atau terang-terangan, terutama dalam urusan adat dan kekeluargaan.

Baca Juga :  Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup

Bahasa kias menjadi bagian penting dalam musyawarah adat, penyelesaian sengketa, hingga pertemuan keluarga. Para depati, ninik mamak, dan tokoh adat lazim menggunakan ungkapan adat sebagai sarana menyampaikan pesan moral maupun keputusan adat. Cara ini bukan sekadar memperindah bahasa, tetapi menunjukkan kebijaksanaan dan kedewasaan dalam bertutur.

Sebagian besar ungkapan adat Kerinci lahir dari hubungan masyarakat dengan alam. Gunung, sawah, sungai, hutan, dan kehidupan sehari-hari dijadikan sumber pelajaran hidup.

Alam bukan hanya tempat hidup masyarakat Kerinci, tetapi juga guru yang mengajarkan nilai keseimbangan, kesabaran, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama.

“Alam tikembang munjadi Guru”

Melalui bahasa kias, leluhur Kerinci mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan, menghormati orang tua, menahan amarah, serta mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Semua nilai itu diwariskan bukan melalui kemarahan, melainkan melalui kata-kata bijak yang mudah diterima dan direnungkan.

Namun, perkembangan zaman saat ini membawa perubahan besar dalam pola komunikasi masyarakat. Bahasa yang serba cepat dan langsung perlahan menggeser tradisi tutur yang santun dan penuh makna. Generasi muda semakin jarang mengenal petatah-petitih adat maupun ungkapan kias yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kerinci.

Baca Juga :  Pembangunan SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Bogor Capai Progres Positif

Keadaan ini tentu menjadi perhatian bersama. Sebab hilangnya bahasa kias berarti hilangnya sebagian warisan budaya dan jati diri masyarakat Kerinci. Di dalam ungkapan adat tersimpan nilai moral, filosofi hidup, dan kebijaksanaan leluhur yang sangat berharga bagi kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, tradisi tutur adat Kerinci perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Pendidikan budaya lokal, kegiatan adat, sastra lisan, dan peran keluarga menjadi sangat penting dalam memperkenalkan kembali nilai-nilai tersebut.

Bahasa kias bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah cermin peradaban masyarakat Kerinci yang mengajarkan bahwa berbicara bukan hanya soal menyampaikan maksud, tetapi juga menjaga rasa, menghormati martabat sesama, dan merawat keharmonisan dalam kehidupan bersama. (Hst)

Berita Terkait

Mubes Perdana Debalang Provinsi Jambi Digelar, Pengurus Kabupaten/Kota Satukan Komitmen Perkuat Marwah Adat
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup
ISMI Kerinci–Sungai Penuh Resmi Dilantik, Bupati Monadi Dorong Penguatan Peradaban Melayu
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Jadi Komitmen Bersama Alfin dan Monadi
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB