Studi Denmark Ungkap Pubertas Anak Kini Datang Lebih Cepat, Ini Penyebab dan Risikonya

- Redaksi

Sabtu, 4 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com – Sebuah penelitian terbaru di Denmark mengungkap bahwa anak-anak masa kini mengalami pubertas lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Fenomena ini terlihat jelas pada anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama lebih awal daripada usia yang dialami ibu mereka.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Epidemiology pada 7 Februari 2026 tersebut menganalisis data 15.819 anak yang tergabung dalam Danish Puberty Cohort. Para peserta lahir antara tahun 2000 hingga 2003 dan diamati selama hampir satu dekade.

Hasil penelitian menunjukkan adanya tren penurunan usia pubertas secara konsisten. Meski rata-rata percepatan hanya sekitar tiga bulan, dampaknya dinilai signifikan terhadap perkembangan anak secara keseluruhan.

Profesor Cecilia Ramlau-Hansen dari Universitas Aarhus menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor sejak masa kehamilan hingga masa kanak-kanak yang berkontribusi terhadap percepatan pubertas.

Selama penelitian, anak-anak melaporkan perkembangan tubuh mereka setiap enam bulan, mencakup berbagai indikator seperti pertumbuhan payudara, rambut kemaluan, menstruasi pertama, perubahan suara, hingga ejakulasi pertama.

Selain faktor genetik yang ditentukan dari usia menstruasi pertama ibu, peneliti menemukan sejumlah pemicu lain. Di antaranya adalah kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan, termasuk kebiasaan merokok.

Baca Juga :  Wawako Azhar Ajak Tani Merdeka Jadi Mitra Strategis Pemerintah

Tak hanya itu, faktor gaya hidup dan lingkungan anak juga berperan besar. Anak dengan berat badan berlebih atau obesitas sebelum masa pubertas cenderung mengalami pubertas lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh jaringan lemak yang memengaruhi produksi hormon seperti estrogen.

Faktor psikologis juga tak kalah penting. Anak yang mengalami stres kronis akibat perceraian orang tua, kurangnya peran ayah, atau konflik keluarga berpotensi mengalami percepatan pubertas hingga empat hingga lima bulan lebih cepat.

Para peneliti menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat memicu sinyal dari otak yang mempercepat kematangan hormon tubuh. Oleh karena itu, lingkungan yang penuh tekanan berkontribusi terhadap pubertas dini.

Dari sisi kesehatan, pubertas yang datang terlalu cepat dapat berdampak jangka panjang. Beberapa risiko yang dikaitkan antara lain meningkatnya kemungkinan terkena diabetes tipe 2, kanker terkait hormon, serta gangguan kesehatan mental.

Baca Juga :  GUBERNUR Al HARIS SERAHKAN BANTUAN AMBULANCE UNTUK RS. DKT KERINCI

Pada remaja perempuan, pubertas dini kerap memicu kecemasan dan depresi akibat perasaan berbeda dari teman sebaya. Sementara pada anak laki-laki, kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan dalam mengelola emosi meski secara fisik terlihat lebih matang.

Peneliti menegaskan bahwa pubertas bukan hanya proses biologis, tetapi juga mencerminkan kondisi kehidupan anak secara menyeluruh. Hal ini dapat menjadi dasar dalam upaya pencegahan dan pendampingan anak sejak dini.

Meski faktor genetik tidak dapat diubah, sejumlah pemicu lain masih bisa dicegah. Upaya seperti menjaga berat badan ideal anak serta menghindari kebiasaan merokok selama kehamilan dinilai dapat membantu menekan tren pubertas dini.

Ke depan, para ilmuwan berencana meneliti lebih lanjut dampak pubertas dini terhadap kesehatan, kesuburan, serta kesejahteraan mental saat anak beranjak dewasa. (Sfw)

Berita Terkait

Kemenag Kerinci Matangkan Persiapan Pelaksanaan OMI Tingkat Kabupaten Tahun 2026
Kenali BPA pada Wadah Air Minum, Ini Langkah Bijak untuk Menjaga Keamanan Keluarga
4 Tips Cegah Kolesterol Naik Saat Idul Adha, Tetap Bisa Nik
Rutin Jalan Kaki 5.000 Langkah Setiap Pagi, Ini 2 Manfaat Besarnya untuk Kesehatan
5 Manfaat Sarapan 2 Telur Rebus Setiap Hari, dari Energi hingga Kesehatan Otak
Tumit Kasar dan Pecah-pecah? Ini 3 Cara Praktis Rekomendasi Doris Day
Manfaat dan Kandungan Gizi Ubi Rebus, Benarkah Cocok untuk Diet?
Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di Sungai Penuh, Pendaftaran Dibuka Hingga Juni 2026
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB