Jakarta, Porosjambimedia.com — Ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon kembali memanas setelah militer Israel melancarkan sejumlah serangan di wilayah Lebanon selatan. Dalam rangkaian operasi tersebut, sedikitnya empat orang dilaporkan tewas, termasuk seorang anak berusia tiga tahun.
Dilansir Al Arabiya dan Reuters, Selasa (10/2/2026), Serangan dilakukan dalam beberapa insiden terpisah. Otoritas Lebanon menyebutkan tiga korban jiwa jatuh akibat serangan udara di Desa Yanouh. Kementerian Kesehatan Lebanon memastikan salah satu korban merupakan anak kecil, sementara dua lainnya orang dewasa.
Militer Israel mengklaim serangan di Yanouh menargetkan seorang anggota Hizbullah yang disebut sebagai pimpinan unit artileri kelompok tersebut di wilayah setempat. Israel menuduh target tersebut terlibat dalam sejumlah serangan lintas batas selama konflik sebelumnya dan tengah berupaya membangun kembali kekuatan militer Hizbullah.
Pihak militer Israel menyatakan telah menggunakan amunisi presisi dan mengaku sedang menyelidiki laporan jatuhnya korban sipil. Mereka juga menyampaikan penyesalan atas kematian warga sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran.
Sementara itu, korban keempat dilaporkan tewas di desa perbatasan Aita al-Shaab akibat serangan terpisah. Otoritas kesehatan Lebanon menyebut korban merupakan seorang pria dewasa.
Di tengah eskalasi tersebut, militer Israel juga mengumumkan penangkapan seorang pejabat senior dari kelompok Sunni Lebanon, al-Jamaa al-Islamiya, dalam operasi penggerebekan di Desa Habbariyeh, dekat Hasbaiyaa. Israel menuding pria tersebut sebagai tokoh penting yang terlibat dalam serangan roket ke wilayah Israel dan menyebutnya telah dibawa ke Israel untuk diinterogasi.
Kelompok Hizbullah mengecam serangan terbaru ini dan menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya yang menandai fase baru agresi Israel. Di sisi lain, Israel menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan upaya mempersenjatai diri kembali, tudingan yang dibantah oleh Hizbullah.
Sejak berakhirnya perang besar antara Israel dan Hizbullah pada 2024, serangan sporadis di wilayah Lebanon selatan terus terjadi. Data dari sumber keamanan Lebanon mencatat ratusan orang telah tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. (Dta)















