Porosjambimedia.com – Sebuah studi jangka panjang kembali menyoroti pentingnya waktu makan pagi bagi kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan menyantap sarapan lebih awal dapat berkaitan dengan peluang hidup yang lebih panjang, terutama pada kelompok usia lanjut.
Riset yang dipimpin oleh Dr. Hassan Dashti, ahli nutrisi dari Massachusetts General Hospital dan Mass General Brigham, melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa yang dipantau selama rata-rata 22 tahun. Para peneliti membandingkan waktu sarapan para partisipan dengan kemungkinan bertahan hidup dalam satu dekade berikutnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang rutin sarapan lebih dekat ke pagi hari memiliki kemungkinan hidup yang lebih tinggi dibanding mereka yang terbiasa makan pagi menjelang siang. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Communication Medicine pada 4 September 2025.
Sarapan Mendekati Pukul 09.00 Berhubungan dengan Kesehatan yang Lebih Buruk
Mengutip laporan Science Focus (19/9/2025), tim peneliti menganalisis data dari 2.945 lansia di Inggris melalui University of Manchester Longitudinal Study of Cognition in Normal Healthy Old Age. Para responden melaporkan kondisi kesehatan, pola makan, serta sebagian menyerahkan sampel darah dalam rentang penilaian dari 1983 hingga 2017.
Rata-rata peserta sarapan sekitar pukul 08.20, namun mereka yang sering sarapan mendekati pukul 09.00 dilaporkan mengalami lebih banyak keluhan seperti depresi, kelelahan, dan kondisi kesehatan mulut yang menurun.
Dr. Dashti menjelaskan bahwa waktu makan—terutama sarapan—bisa menjadi indikator kesehatan umum pada lansia. Ia menegaskan bahwa menjaga waktu sarapan yang konsisten dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendukung penuaan sehat dan meningkatkan peluang umur panjang.
Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini hanyalah hubungan observasional. Artinya, mereka belum bisa memastikan bahwa sarapan lebih siang secara langsung menyebabkan risiko kesehatan atau kematian dini.
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang genetis cenderung tidur lebih malam turut memiliki kebiasaan sarapan lebih lambat. Pola ini juga membuat rentang waktu makan harian mereka semakin pendek.
Temuan ini menjadi relevan di tengah maraknya praktik intermittent fasting, di mana waktu makan biasanya dimundurkan, termasuk sarapan. Menurut Dr. Dashti, pola makan yang semakin terlambat—khususnya sarapan—berkaitan dengan meningkatnya tantangan kesehatan pada kelompok lanjut usia. (Hst)
Sumber Berita : Kompas.com















