JAMBI, Porosjambimedia.com — Polda Jambi terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program nasional peningkatan gizi anak dan ketahanan pangan masyarakat.
Melalui program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diinisiasi oleh Polri, sebanyak 20 dapur gizi berstandar higienis telah dibangun di wilayah hukum Polda Jambi, dan ditargetkan total 31 unit SPPG akan beroperasi di seluruh provinsi.
Program ini menjadi salah satu inovasi sosial Polri yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, terutama bagi anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Tidak hanya sekadar dapur umum, SPPG dirancang sebagai pusat produksi makanan bergizi dengan standar sanitasi dan pengolahan modern berbasis teknologi.
“SPPG adalah bukti nyata komitmen Polri dalam mendukung ketahanan pangan serta peningkatan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah,” ujar Irwasda Polda Jambi Kombes Pol Jannus P. Siregar, selaku Kepala Satgas Program MBG Polda Jambi, Sabtu (1/11/2025).
Dari total 31 unit SPPG yang direncanakan, 30 akan tersebar di jajaran Polres dengan target minimal 3 dapur di setiap wilayah. Satu SPPG utama milik Polda Jambi saat ini telah beroperasi penuh di kawasan Sungai Asam, Kota Jambi, melayani 20 sekolah dengan 3.640 anak penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“SPPG kami bangun mengikuti pedoman dari Badan Gizi Nasional (BGN), dengan tata letak dapur yang ketat, higienis, dan bersertifikasi halal,” jelas Kombes Jannus.
Bangunan SPPG berukuran 15 x 25 meter ini dilengkapi ruang produksi, kantor administrasi, ruang ahli gizi, akuntansi, serta area kerja pengelola dari Bhayangkari. Setiap dapur memiliki jalur produksi satu arah untuk mencegah kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan matang.
Sebelum diolah, seluruh bahan makanan disortir dan dicuci menggunakan sistem higienitas khusus. Bahan basah disimpan di ruang pendingin (cold storage), sedangkan bahan kering ditempatkan di ruang rak berpalet agar tetap steril.
Makanan yang telah dimasak tidak langsung dikirim, tetapi disimpan sementara di pendingin hingga suhu stabil. Setelah itu, dikemas dalam wadah steril dan diantarkan ke sekolah menggunakan kendaraan khusus.
“Durasi maksimal distribusi hanya enam jam setelah proses masak selesai agar kualitas gizi tetap terjaga dan tidak berisiko keracunan makanan,” terang Jannus.
Untuk menjamin keamanan pangan, tim SPPG melakukan uji sampel harian (random sampling) menggunakan dua metode — uji cairan kimia dan reagent manual — guna mendeteksi zat berbahaya seperti boraks, formalin, dan nitrit.
SPPG Polda Jambi melibatkan ahli gizi, staf administrasi, dan relawan dari masyarakat sekitar serta pelaku UMKM lokal. Semua relawan terlebih dahulu mengikuti pelatihan higienitas, pengolahan pangan, dan sanitasi sesuai standar nasional.
“Kami ingin masyarakat sekitar ikut berdaya. Mereka kami latih agar bisa memproduksi makanan sehat dan menjadi bagian dari solusi ketahanan gizi,” jelas Jannus.
Menu yang disusun ahli gizi disesuaikan dengan usia anak — mulai dari SD, SMP, hingga SMA — dengan porsi seimbang berisi nasi, lauk ayam atau ikan segar, sayuran, buah, dan susu. Selain itu, anak-anak juga diajarkan etika makan (table manner) seperti berdoa sebelum makan, menjaga kebersihan, dan membawa botol minum sendiri.
SPPG tidak hanya fokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Sisa makanan dikumpulkan kembali dan dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan kemasan dikembalikan ke dapur untuk didaur ulang.
Dalam pelaksanaannya, Polda Jambi bekerja sama dengan BKKBN, BPOM, dan Dinas Kesehatan guna memastikan seluruh proses memenuhi standar keamanan dan mutu pangan nasional. Selain itu, sistem pelaporan digital diterapkan melalui grup komunikasi kepala sekolah untuk menerima masukan dan evaluasi layanan.
“Kami terbuka terhadap kritik dan saran. Semua masukan kami gunakan untuk memperbaiki kualitas pelayanan agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Kombes Jannus. (Hst)
Sumber Berita : detik.Com















