Membangun Infrastruktur Transportasi Tangguh untuk Kerinci yang Lebih Maju dan Aman

- Redaksi

Senin, 23 Juni 2025 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muhazir Rahendra (Dosen Teknik Sipil Universitas Andalas)

Porosjambimedia.com, Kerinci – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Kerinci tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menentukan arah pembangunan daerah. Saya menilai, tema “Peningkatan Sumber Daya Manusia, Infrastruktur, dan Potensi Daerah untuk Mewujudkan Kerinci yang Berdaya Saing, Maju, dan Sejahtera” menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur transportasi tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Sebagai daerah agraris dan destinasi wisata di kawasan pegunungan yang rawan bencana, Kerinci membutuhkan sistem transportasi yang efisien sekaligus tangguh menghadapi risiko. Menurut hemat saya, perencanaan infrastruktur transportasi harus berfokus pada dua hal: memperkuat konektivitas wilayah strategis (pertanian, wisata, layanan publik) dan membangun jalur evakuasi serta mitigasi risiko bencana.

Potret Infrastruktur Transportasi Kerinci

Saat ini infrastruktur transportasi Kerinci memang mengalami kemajuan, tetapi tantangan besar masih membayangi. Data BPS 2024 menunjukkan panjang jalan di Kerinci hanya meningkat tipis, sementara 57% jalan masih berupa kerikil dan tanah. Lebih dari separuh jalan mengalami kerusakan ringan hingga berat. Kondisi ini jelas menghambat mobilitas, distribusi hasil pertanian, dan akses wisata, apalagi saat musim hujan atau bencana melanda.

Selain itu, saya mencatat, kualitas jalan yang buruk berdampak langsung pada keselamatan pengguna dan menurunkan produktivitas ekonomi daerah. Petani kesulitan menyalurkan hasil panen, wisatawan enggan berkunjung, dan masyarakat terisolasi saat terjadi bencana.

Ironisnya, peran besar pemerintah daerah dalam pengelolaan jalan belum sepenuhnya diimbangi dengan prioritas anggaran yang memadai.

Saya menilai, infrastruktur transportasi yang kurang memadai di Kerinci tidak hanya menjadi hambatan dalam mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak signifikan terhadap perekonomian daerah dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Berdasarkan data terbaru dari BPS 2024, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah. Namun, keterbatasan akses transportasi yang berkualitas menghambat distribusi hasil pertanian ke pasar, sehingga menurunkan produktivitas dan pendapatan petani.

Sektor pariwisata yang menjadi salah satu fokus pembangunan Kerinci juga sangat bergantung pada kelancaran akses transportasi. Jalan yang rusak dan permukaan yang tidak memadai mengurangi kenyamanan wisatawan, sehingga berpotensi menurunkan kunjungan dan pendapatan dari sektor ini.

Data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara yang tercatat pada tahun 2024 memang menunjukkan tren peningkatan, namun infrastruktur yang belum optimal menjadi tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan angka tersebut.

Kerentanan Bencana dan Infrastruktur

Lebih jauh, Kerinci merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir, longsor, dan gempa bumi. Data bencana alam selama periode 2019 hingga 2021 menunjukkan bahwa banjir merupakan jenis bencana paling sering terjadi di Kabupaten Kerinci. Jumlah desa terdampak banjir meningkat tajam dari 47 desa pada 2019 menjadi 92 desa pada 2020, dan sedikit menurun menjadi 91 desa pada 2021. Kecamatan Depati VII menjadi wilayah yang paling sering terdampak banjir dengan total 37 kejadian selama tiga tahun berturut-turut. Kecamatan lain yang juga rawan banjir adalah Air Hangat Timur dan Air Hangat, masing-masing dengan 26 dan 28 kejadian, serta peningkatan signifikan di Kecamatan Tanah Cogok pada 2020.

Baca Juga :  4 Warga Kerinci Hanyut terseret Air laut di Pantai Sumedang Pesisir Selatan.

Gempa bumi, meskipun lebih jarang dibanding banjir, tetap menjadi ancaman serius terutama pada 2019 dan 2020. Pada 2020, tercatat 38 desa terdampak gempa dengan penyebaran signifikan di Kecamatan Keliling Danau dan Gunung Tujuh. Sementara itu, tanah longsor menunjukkan tren peningkatan dari 16 kejadian pada 2019 menjadi 25 kejadian pada 2021, dengan Kecamatan Gunung Kerinci, Siulak, dan Air Hangat Timur sebagai wilayah paling rawan.

Kerentanan terhadap bencana ini diperparah oleh kondisi infrastruktur transportasi yang banyak mengalami kerusakan. Lebih dari 50% jalan di Kerinci dalam kondisi rusak ringan hingga berat, yang mengancam keselamatan pengguna jalan dan menghambat evakuasi serta distribusi bantuan saat bencana terjadi. Hal ini menimbulkan risiko besar terhadap keselamatan jiwa dan kerugian ekonomi yang signifikan.

Sebagai respons, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kerinci telah menunjukkan efektivitas dalam penanganan bencana dengan strategi yang terencana dan responsif, meskipun masih menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana. Kesiapsiagaan masyarakat di beberapa kecamatan juga menunjukkan tingkat pengetahuan yang tinggi, meski aspek perencanaan tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya masih perlu ditingkatkan.

Strategi Pembangunan: Dari Data ke Aksi

Saya percaya, membangun transportasi tangguh di Kerinci harus berbasis data dan kebutuhan nyata. Pemerintah sudah berupaya memperkuat sinergi dengan pusat, namun langkah konkret di lapangan masih perlu percepatan. Penyusunan proposal terintegrasi berbasis data spasial dan kebutuhan riil sangat penting agar pembangunan jalan benar-benar menyasar wilayah strategis dan rawan bencana. Selain itu, saya melihat pentingnya memperbaiki kualitas jalan, bukan sekadar menambah panjang jaringan.

Transisi menuju sistem transportasi yang tangguh juga harus melibatkan masyarakat dan sektor swasta. Kolaborasi lintas sektor akan mempercepat pembangunan dan memastikan hasilnya berkelanjutan. Dalam penyusunan rencana pembangunan, Pemkab Kerinci juga mengadopsi pendekatan berbasis data spasial dan kebutuhan riil di lapangan. Proposal terintegrasi yang sedang disiapkan akan menjadi acuan dalam pengajuan program ke Bappenas dan Kementerian PUPR, dengan fokus pada jalur penghubung strategis antar kecamatan, akses ke pasar pertanian, serta konektivitas ke destinasi wisata unggulan.

Lebih jauh, pembangunan infrastruktur transportasi tangguh harus memperhatikan aspek ketahanan terhadap bencana. Rencana pengembangan infrastruktur wilayah di Provinsi Jambi menekankan penguatan jaringan jalan dan jembatan yang tahan bencana, termasuk pembangunan jalan bebas hambatan yang memperhatikan kawasan rawan bencana dan kawasan pertanian berkelanjutan. Hal ini menjadi landasan penting agar infrastruktur yang dibangun dapat bertahan lama dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Baca Juga :  Aksi Warga di PLTA Merangin, Asroli Tegaskan Mereka Bukan Minta Ganti Rugi Lahan, Tapi Kompensasi Sungai

Praktik Baik: Belajar dari Marapi, Sumatera Barat

Dalam membangun jalur evakuasi dan infrastruktur tangguh, saya menilai Kerinci bisa belajar dari Sumatera Barat, khususnya kawasan Gunung Marapi. Setelah erupsi Marapi pada Desember 2023 yang menelan korban jiwa, Pemerintah Sumatera Barat segera memperbaiki dan memperluas jalur evakuasi di sekitar Marapi. Mereka mengintegrasikan sistem peringatan dini, memperkuat infrastruktur jalan berbasis peta risiko, serta melibatkan masyarakat dalam simulasi evakuasi dan perawatan jalur. Hasilnya, jalur evakuasi lebih siap pakai, dan masyarakat lebih sigap menghadapi bencana. Model seperti ini sangat relevan untuk diadopsi di Kerinci, mengingat ancaman erupsi Gunung Kerinci yang juga tinggi.

Saya melihat, pendekatan Sumatera Barat sangat efektif karena mereka mengedepankan kolaborasi lintas sektor dan pelibatan masyarakat. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah (Pemprov Sumatera Barat, BPBD, Dinas PUPR), pemerintah kabupaten/kota di sekitar Marapi, TNI/Polri, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok relawan dan komunitas lokal. Selain itu, pemerintah daerah setempat secara aktif mengakses bantuan pusat melalui koordinasi dengan BNPB dan Kementerian PUPR, serta mengoptimalkan pemetaan risiko berbasis teknologi yang dikembangkan bersama universitas dan lembaga riset. Praktik baik ini membuktikan bahwa dengan komitmen, inovasi, dan keterbukaan pada pembelajaran lintas daerah, upaya mitigasi bencana dan pembangunan infrastruktur tangguh bisa berjalan lebih cepat dan efektif.

Rekomendasi dan Harapan

Berdasarkan analisis di atas, saya merekomendasikan:

• Pemerintah daerah harus segera mempercepat pembangunan dan perbaikan jalur evakuasi, terutama di kawasan sekitar Gunung Kerinci. Status jalan evakuasi perlu ditingkatkan agar mendapat prioritas anggaran.

• Pemerintah harus meningkatkan kualitas jalan strategis yang menghubungkan sentra pertanian, pasar, dan destinasi wisata, berbasis data spasial dan kebutuhan nyata.

• Setiap pembangunan infrastruktur harus mengintegrasikan mitigasi bencana, termasuk normalisasi sungai, pembangunan tanggul, dan konstruksi jalan tahan bencana.

• Pemerintah harus memastikan pembangunan inklusif, memperhatikan wilayah terpencil agar tidak ada lagi daerah terisolasi.

• Kolaborasi lintas sektor dan pelibatan masyarakat harus diperkuat, karena membangun infrastruktur tangguh bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Jika kita abai hari ini, bencana esok hari bisa jadi tak terhindarkan. Menurut saya, membangun jalan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan soal menyelamatkan nyawa dan masa depan Kerinci. Dengan komitmen bersama, saya yakin Kerinci dapat menjadi contoh daerah yang maju, aman, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Penulis : Oleh: Muhazir Rahendra (Dosen Teknik Sipil Universitas Andalas)

Editor : Hesty

Berita Terkait

Menerka Karakter Manusia Kerinci
PERMAHI Desak Pemerintah Cabut Izin Korporasi dan Blokir Sertifikat Pemilik Lahan yang Terbakar.
Gelar Bimwin Gelombang II Tahun 2026, Kemenag Kerinci Dorong Catin Siapkan Diri Menuju Keluarga Sakinah
HIMSAK mendesak Kapolda dan Danrem untuk turun dari jabatannya karna tidak ada penyelesaian kabut asap di provinsi Jambi
PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital
Tinjau Pelaksanaan OMI Hari Terakhir, Kakan Kemenag Pastikan OMI Kabupaten Kerinci Berjalan Lancar
Buka OMI 2026, Kakankemenag Kerinci Dorong Peserta Tampil Maksimal hingga Tingkat Nasional
Dua Ekor Beruang Masuk Ladang dan Merusak Tanaman Warga di Kerinci, Warga Resah
Berita ini 309 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB