Empat Suku Sungai Penuh Rajut Kembali Silsilah dengan Keturunan Rajo Cayo Semurup

- Redaksi

Sabtu, 19 September 2026 - 01:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI, Porosjambimedia.com- Upaya menggali kembali hubungan kekerabatan dan silsilah leluhur kembali dilakukan empat suku di Sungai Penuh, yakni Kademang, Jayo, Temenggung dan Mangku Bumi. Kali ini, penelusuran silsilah mempertemukan mereka dengan anak keturunan Rajo Cayo yang berada di Semurup.

Hubungan persaudaraan tersebut disebut telah berlangsung sejak masa lalu, namun dalam perjalanan waktu jejak kekerabatan antara anak keturunan Rajo Cayo dan empat suku di Sungai Penuh nyaris tidak lagi diketahui oleh generasi sekarang.

Sejumlah faktor disebut turut menyebabkan terputusnya pengetahuan mengenai hubungan tersebut. Di antaranya minimnya penuturan dari para tetua adat serta belum optimalnya pemahaman terhadap pusaka berupa tambo yang tersimpan di masing-masing rumah gedang.

Padahal, tambo tidak hanya memuat cerita masa lalu, tetapi juga menyimpan keterangan mengenai silsilah, gelar sko, batas wilayah adat atau arah ajun, hukum adat serta hubungan antarleluhur yang berkaitan dengan generasi anak cucu saat ini.

Melalui ketekunan generasi muda dalam menggali kembali Adat Lamo Pusako Usang, sejumlah jejak yang sebelumnya tertimbun perlahan mulai dibuka dan dipertemukan.

Salah satunya melalui silaturahmi empat suku dari Sungai Penuh ke Semurup. Kedatangan tersebut disambut di Rumah Gedang Ninik Besi atau Depati Simpan Bumi Tuo, bersama Ninik Mamak dan kembar rekan di Dusun Balai.

Ini merupakan kali kedua, kedatangan setelah sebelumnya jelang kenduri Sko di Sungai Penuh, dilakukan batatin sirih batatin pinang oleh kerabat dari sungai penuh di rumah gedang Ninik Suri Alam Baraganto Ria (Depati Pangga bumi Tuo)

Sejumlah pemangku adat dari Sungai Penuh turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Di antaranya Ninik Mamak Rio Jayo, Ansari gelar Depati Santiyudho Tuo; Ninik Mamak Rio Sangaho, Alfia Hendri, BBA gelar Rio Sangaho; Ninik Mamak Rio Temenggung Sungai Penuh, Priska Armanto, S.AP gelar Depati Sungai Penuh.

Hadir pula Andre Toba, Gelar Depati Payung Negeri, Kamil gelar Depati Santiyudho Hitam, yang juga Kepala Desa Sungai Ning. Jonfryanto gelar Depati Palawang Negaro, yang juga merupakan Kepala Desa Sumur Anyir. Ari Wahyudi gelar Ngabi Teah Satio Bawo; serta Damas Daviola gelar Rio Temenggung.

Tambo Bilah Keris Ratu Pasian

Dalam pertemuan tersebut, Damas Daviola gelar Rio Temenggung menyampaikan keterangan berdasarkan tambo yang disimpan oleh Luhah Rio Jayo, Sungai Penuh.

Menurutnya, pada bilah Keris Ratu Pasian terdapat keterangan silsilah yang menghubungkan empat suku tersebut dengan Semurup.

Dalam tuturan tambo itu disebutkan, garis keturunan bermula dari Ratu Pasian, yang disebut sebagai Melayu Tua yang bermukim di Hulu Sungai Batang Hari dan bersuamikan Tun Talanai dari Semenanjung Malako.

Dari perkawinan tersebut lahir Ratu Nakangin. Suami Ratu Nakangin disebut berasal dari Jawa Mataram dan merupakan seorang panglima perang.

Ratu Nakangin kemudian disebut memiliki enam keturunan. Salah satunya adalah Ratu Sri Maladewi, yang juga disebut bersuamikan keturunan dari Jawa Mataram.

Ratu Sri Maladewi mempunyai lima keturunan. Salah satunya Puti Sani atau Paduka Sara, yang disebut bersuamikan Ananggawarman, bergelar Mangku Negara dan berasal dari Jawa Mataram. Dalam keterangan yang dituturkan, di Minangkabau ia disebut memperoleh gelar Hakir Mahudun atau Mangkhudun.

Puti Sani dan Hakir Mahudun kemudian mempunyai seorang anak bernama Hulatun, yang dalam sejumlah penuturan disebut pula dengan nama Halit atau Halik.

Baca Juga :  Semarak HUT Persit, Kodim 0417/Kerinci Gelar Lomba Permainan Tradisional di Makodim.

Hulatun selanjutnya disebut mempunyai lima keturunan, yaitu Ria Jaya atau Riya Caya atau Rio Cayo, Hawang Malila, Hintan Baginda, Sadung dan Sapicit.

Dalam keterangan tambo tersebut juga dijelaskan mengenai gelar Ria Jaya yang diberikan kepada keturunan atau cucu dari saudara perempuannya, yakni Sadung, atau anak dari Ninek Hitam bernama Jayo. Gelar tersebut disebut mengambil gelar yang disandang kakeknya, Rio Jayo/Rio cayo yang menghuni Koto Payung Semurup Tinggi.

Keterangan itu juga dikaitkan dengan prinsip pewarisan sko di Kerinci yang secara adat mengikuti garis perempuan. Karena itu, sko berkaitan erat dengan suku atau kaum dan diwariskan secara turun-temurun melalui garis ibu.

Dari Jayo hingga Kademang dan Rio Jayo

Keterangan silsilah selanjutnya menuturkan bahwa Jayo menikah dengan Sapado dan memiliki tiga keturunan. Salah satunya Sebidang, yang disebut bersuamikan Seteri Dibalang.

Dari pasangan tersebut lahir tiga keturunan, salah satunya Sebat, yang suaminya disebut bergelar Talo Bumi dari Jawa Mataram.

Selanjutnya lahir empat keturunan, salah satunya Sapisun, yang disebut bersuamikan Raden Kecil.

Sapisun kemudian mempunyai enam keturunan. Salah satunya Puti Gento Suri, yang disebut bersuamikan Intan Permato bergelar Siak Lengis dari Prahiangan Padang Panjang.
Gento Suri merupakan isteri pertama (isteri Tua) dari Siak lengis, sebelum Siak lengis menikahi isteri kedua, yaitu puti dayang beranai dari prahiangan Padang Panjang.

Gento Suri dan Siak Lengis kemudian disebut memiliki keturunan bergelar Ratu Berembok Suri.

Dalam keterangan tersebut, suami Ratu Berembok Suri berasal dari Semurup, Dusun Balai, dengan gelar Sutan Depati Rajo, yang merupakan anak keturunan dari Depati pangga bumi tuo.

Disebutkan pula bahwa ketika masih kecil, Ratu Berembok Suri dibesarkan oleh saudara ibunya di Semurup, yakni Cinto Alus.

Ratu Berembok Suri bersama Sutan Depati Rajo kemudian disebut mempunyai tiga keturunan.

Pertama, Rambi Seti Dandan Merah, Ngabi Tunggu Umah Tunggu Mendapo, yang suaminya bernama Amad Jayo.

Kedua, Kademang, Kepala Adat Pegawai Rajo Sungai Penuh, yang disebut beristerikan Rabiah.

Ketiga, Rio Jayo, yang dalam keterangan disebut bertombak belang dan berjanggut jenggi. Isterinya bernama Pandan Mangurai.
Tombak belang Berjanggut jenggi merupakan pusaka milik Rajo cayo dari jawa mataram, yang diwariskan kepada keturunannya, Jayo, bergelar Riyo Jayo, yang juga merupakan keturunan saudara perempuannya, Sadung di Sungai Penuh.

Dari garis tersebut, silsilah kemudian berkembang hingga kepada keturunan saat ini.

Tambo Rumah Gedang Perkuat Korelasi

Setelah penyampaian tutur mengenai silsilah tersebut, pembahasan dilanjutkan dengan keterangan dari Andodias Rapuan, Dpt., gelar Depati Sigumi Putih Qudrat.

Ia menerangkan adanya keterangan lain dalam naskah tambo yang tertulis pada tanduk yang terdapat di Rumah Gedang Ninik Besi, Ninik Suri dan Ninik Hitam Koto Cayo.

Menurut Andodias, apabila sejumlah keterangan tersebut dibandingkan, terdapat korelasi yang dinilai kuat antara satu naskah dengan naskah lainnya.

Ia menyebut, naskah-naskah tersebut memperlihatkan adanya jalinan genealogis yang perlu terus diteliti dan ditelusuri.

Andodias Rapuan., Dpt. Sigumi Putih Qudrat dan Safwandi., Dpt, Gelar Ijung Putih Tuo juga menyampaikan Salah satu rujukan yang disebut adalah Tambo Kerinci (TK 180) yang menuturkan perjalanan Rajo Cayo.

Dalam tambo tersebut, Rajo Cayo disebut berjejak dari Dusun Tinggi, yang pada masa itu disebut Koto Maru Tinggi Bukit Maninjau Laut, kemudian menuju Jambi dan selanjutnya ke Jawa Mataram.

Baca Juga :  Distribusi MBG Saat Libur Lebaran Dialihkan ke Paket Gabungan

Setibanya di Mataram, menurut keterangan tambo, Rajo Cayo diberikan sko, gelar dan piagam dengan gelar Sko Rik Hana atau Rake Hino, Hitam Panggar Bumi.

Gelar tersebut selanjutnya di pecah (dilegitimasikan) kepada keturunannya di Kerinci, seperti gelar Rik hana/Rake Hino, yang dalam dialek lokal gelar itu disandang dengan gelar Rik Nang Gung Gumbalo Bumi Rajo, merupakan pengawal pribadi Depati Kepalo Sembah.

Keterangan mengenai Rake Hino kemudian menarik perhatian karena dalam struktur pemerintahan Mataram Kuna dikenal jabatan Rakryan Mahamantri i Hino.

Jabatan tersebut merupakan bagian dari kelompok Rakryan Mahamantri Katrini bersama i Halu dan i Sirikan. Dalam struktur kerajaan Mataram Kuna, i Hino dikenal sebagai salah satu jabatan tertinggi dan dalam sejumlah konteks epigrafis berkaitan dengan lingkungan putra raja atau pewaris takhta.

Namun, keterkaitan antara gelar dalam tambo Kerinci dengan jabatan Rakryan Mahamantri i Hino dalam struktur Mataram Kuna masih memerlukan kajian lebih lanjut dengan membandingkan naskah, prasasti dan sumber sejarah lainnya.

Bagi para pemangku adat yang hadir, rangkaian keterangan tersebut menjadi dasar penting untuk kembali menelusuri hubungan genealogis antara Rajo Cayo, Ratu Pasian dan garis keturunan yang berkembang hingga empat suku di Sungai Penuh.

Menjadi Titian bagi Generasi Mendatang

Mursalim., Dpt., gelar Depati Simpan Bumi Tuo, menyambut baik kedatangan para pemangku adat dari empat suku Sungai Penuh tersebut.

Dalam pertemuan itu, ia didampingi Hendry, Ninik Mamak Ijung Simpan Depati; Deprizal., Dpt., Depati Kunci Negeri; Dafrinal, Mangku Alam;, serta kembar rekan dari Kepalo Sembah.

Mursalim., Dpt menyampaikan rasa syukur atas kembali terjalinnya hubungan kekerabatan yang selama ini nyaris tidak diketahui oleh generasi sekarang.

Menurutnya, pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai silaturahmi semata, tetapi menjadi titian dan jembatan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang untuk memahami kembali asal-usul dan hubungan kekerabatan mereka.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penggalian kembali Adat Lamo Pusako Usang, terutama melalui tambo dan ranji yang selama ini tersimpan sebagai pusaka di rumah-rumah gedang.

Dengan membuka kembali catatan leluhur, kemudian mempertemukannya dengan penuturan para pemangku adat, hubungan kekerabatan yang sebelumnya tidak lagi diketahui diharapkan dapat ditelusuri secara lebih sistematis.

Bagi para pemangku adat, tambo dan ranji tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi pedoman untuk memahami hubungan darah, gelar sko, kaum serta perjalanan leluhur.

Penelusuran tersebut pun dinilai penting agar generasi berikutnya tidak kehilangan jejak sejarah dan tetap memiliki pedoman dalam memahami identitas adat serta hubungan kekerabatan mereka.

Sumber:

Tambo Kerinci (TK 180), Ranji Rio Jayo, Ranji Ijung Putih Tuo, serta penuturan para pemangku adat Sungai Penuh dan Semurup.

  • Penulis : Safwandi., Dpt
  • Editor : Gambar: ilham Kurniawan

Berita Terkait

Pekan Gelar Karya SMAN 4 Kerinci: Lestarikan Budaya dan Kearifan Lokal Kerinci di Era Modern
Mubes Perdana Debalang Provinsi Jambi Digelar, Pengurus Kabupaten/Kota Satukan Komitmen Perkuat Marwah Adat
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup
ISMI Kerinci–Sungai Penuh Resmi Dilantik, Bupati Monadi Dorong Penguatan Peradaban Melayu
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 23:53 WIB

Upacara Hari Kesadaran Nasional, Kakan Kemenag Kerinci Apresiasi pelaksanaan Kompas & OMI Tk. Kabupaten Kerinci

Jumat, 18 September 2026 - 22:18 WIB

Bupati Kerinci dan Pangdam Tinjau Jembatan Perintis Garuda, Dorong Konektivitas Masyarakat

Jumat, 18 September 2026 - 20:14 WIB

Wali Kota Sungai Penuh Hadiri Jamuan Makan Malam Bersama Pangdam XX/TIB

Jumat, 18 September 2026 - 16:14 WIB

Wako Alfin Sambut Kunjungan Kerja Pangdam XX/TIB, Perkuat Koordinasi Lintas Sektor.

Jumat, 18 September 2026 - 14:08 WIB

Perkuat Sinergi, Rutan Sungai Penuh Bersama TNI dan Polri Gelar Penggeledahan Serta Tes Urin

Jumat, 18 September 2026 - 10:05 WIB

Pemkab Kerinci Dorong Pembangunan Responsif Gender, Perkuat Kesetaraan dan Inklusi

Kamis, 17 September 2026 - 22:41 WIB

Rapat Paripurna, Walikota Sampaikan Pengantar Ranperda Perubahan APBD 2026

Kamis, 17 September 2026 - 20:29 WIB

Wako Alfin Sampaikan Pengantar Raperda Perubahan APBD 2026

Berita Terbaru