JPPI Soroti Maraknya Pelecehan di Kampus, Desak Audit Satgas PPKS Secara Berkala

- Redaksi

Senin, 20 April 2026 - 12:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Porosjambimedia.com – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mengkritik keras maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Fenomena ini dinilai sebagai cerminan dari sistem pendidikan yang masih belum setara dan cenderung feodalistik.

Koordinator JPPI, Ubaid Matraji, menyebut kampus masih menjadi ruang yang rentan bagi terjadinya kekerasan seksual. Ia menilai relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa sering kali membuka celah penyalahgunaan wewenang.

“Kasus yang terus bermunculan menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya individu, tetapi juga sistem pendidikan yang belum egaliter,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan dengan sejumlah kasus yang mencuat, di antaranya dugaan grup percakapan bermuatan asusila di Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Selain itu, terdapat pula kasus dugaan pelecehan oleh oknum guru besar di Universitas Padjadjaran serta dosen di Universitas Budi Luhur.

JPPI menilai lemahnya peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) turut menjadi penyebab maraknya kasus tersebut. Banyak Satgas PPKS dinilai tidak independen karena masih berada di bawah struktur birokrasi kampus.

Baca Juga :  SMAN 2 Kerinci Pertahankan predikat Juara LCC Empat Pilar MPR RI 2026, Bawa Jambi ke Tingkat Nasional

Akibatnya, penanganan kasus sering kali tidak optimal, terutama jika melibatkan pejabat kampus atau figur berpengaruh. Hal ini membuat korban kerap tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya.

Selain itu, JPPI juga menyoroti kecenderungan pihak kampus yang lebih mengutamakan reputasi institusi dibandingkan keadilan bagi korban. Penyelesaian kasus melalui jalur damai dinilai justru berpotensi mengabaikan hak korban.

“Kampus seharusnya berpihak pada korban, bukan sekadar menjaga citra. Praktik mediasi dalam kasus kekerasan seksual tidak boleh menjadi pilihan utama,” tegas Ubaid.

Sebagai langkah perbaikan, JPPI mendorong penerapan pendidikan berbasis kesetaraan gender sejak dini, termasuk integrasi perspektif gender dan etika digital dalam kurikulum pendidikan.

Selain itu, JPPI mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk melakukan audit berkala terhadap kinerja Satgas PPKS di seluruh perguruan tinggi.

Baca Juga :  Dubes Lutfi Rauf Beri Kuliah Umum Peluang Pasar Ekspor ke Mesir di Universitas Halu Oleo Kendari

Jika ditemukan kampus yang menutupi kasus atau tidak memberikan sanksi tegas kepada pelaku, JPPI meminta agar diberikan konsekuensi serius, termasuk penurunan hingga pencabutan akreditasi.

Tak hanya itu, JPPI juga menekankan pentingnya penegakan hukum tanpa kompromi terhadap pelaku kekerasan seksual, dengan mengacu pada Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

“Pelaku harus dikenai sanksi administratif tertinggi hingga proses pidana, tanpa memandang jabatan atau status akademik,” pungkasnya.

Kasus-kasus yang terus bermunculan ini menjadi pengingat bahwa reformasi sistem pendidikan dan perlindungan terhadap korban harus segera diperkuat demi menciptakan lingkungan kampus yang aman dan berkeadilan. (Hst)

Berita Terkait

SMAN 4 Kerinci Gelar Pekan Karya, Angkat Tradisi Balahak dan Kearifan Lokal
Mubes IV PMHKS Digelar, Irfan Hermawan Terpilih Nahkodai Kepengurusan Baru
Gelar Karya SMAN 4 Kerinci Siap Digelar, Yuk Meriahkan Ajang Kreativitas dan Pelestarian Budaya
KOMPAS Madrasah Kerinci 2026 Resmi Dimulai, Peserta Berebut Tiket Wakili Daerah ke Tingkat Jambi
Beasiswa Unggulan Kemendikdasmen 2026 Resmi Dibuka, Ada untuk Jenjang S1 hingga S3
Semangat Kemerdekaan dan Kebersamaan Warnai Gebyar HUT RI ke-81 di SMAN 4 Kerinci
Gebyar HUT RI ke-81 SMAN 4 Kerinci: Menghidupkan Semangat Kemerdekaan Lewat Kebersamaan dan Karya Siswa
Dinda Putri Khamisah, Putri Kerinci yang Bawa ITB Wakili Asia Pasifik di Final Global 2026
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB