Adat Nyato, Syarak Nyalo: Menjaga Jati Diri Kerinci di Tengah Arus Perubahan Zaman

- Redaksi

Rabu, 1 April 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Safwandi Depati Kepalo Sembah, Semurup, Kerinci

Porosjambimedia.com – Di tengah derasnya arus perubahan zaman, masyarakat kerap dihadapkan pada pertanyaan mendasar: masihkah kita berpijak pada nilai-nilai yang menjadi akar kehidupan? Bagi masyarakat Kerinci, falsafah “adat nyato, syarak nyalo” bukan sekadar ungkapan, melainkan pedoman hidup yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.

Falsafah ini menjadi pusaka berharga—sebuah ingatan kolektif sekaligus penentu arah bagi generasi ke generasi. Warih nak dijawat, walifah nak dijunjung, begitulah pesan yang terus dijaga. Nilai-nilai adat itu tidak lekang oleh waktu: idaknyo lapuk karno hujan, idaknyo lekang karno paneh. Ia tetap kokoh, meski diasak zaman, sebagaimana petatah-petitih adat di Bumi Sakti Alam Kerinci yang menegaskan keteguhan prinsip hidup masyarakatnya.

Adat adalah cerminan jati diri. Ia hidup dalam tata cara, sopan santun, serta aturan yang mengikat kehidupan bermasyarakat. Adat bukan sekadar simbol, tetapi benar-benar dijalankan—nyato—dalam setiap sendi kehidupan. Mulai dari musyawarah, penghormatan kepada yang tua, hingga menjaga harmoni sosial, semua berakar pada nilai-nilai adat yang luhur.

Di sisi lain, syarak atau syariat merupakan cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Syarak nyalo mengandung makna bahwa ajaran agama tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dengan penuh kesadaran. Ia menjadi pedoman moral, penuntun akhlak, sekaligus benteng dari berbagai pengaruh negatif yang datang silih berganti.

Baca Juga :  Menunggu Ketegasan Polres Kerinci, Kasus Viral di Kerinci Belum Ada Penetapan Tersangka

Ungkapan adat mengingatkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan ini:

Bia tujuh kali murangkak pesap, pesap tirangkap bawah mansiro.

Bia tujuh kali bumi takirap, jangan diasak karang setio…

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa prinsip adat dan syarak tidak boleh digoyahkan. Sebab jika “karang setio” atau landasan kesetiaan itu runtuh, maka sendi-sendi kehidupan akan ikut hancur—nilai hilang, jati diri pudar, dan arah kehidupan menjadi kabur.

Karena itu, adat dan syarak harus berjalan seiring. Adat tanpa syarak berisiko kehilangan arah, sementara syarak tanpa adat akan terasa kering dalam praktik sosial. Keduanya saling menguatkan dan melengkapi, sebagaimana ungkapan:

Bungkan genap tahan uji, hukum adil tahan banding,

kalau adil hakim berbanding, adat dengan syarak samo dikaji.

Namun, tantangan hari ini semakin nyata. Modernisasi, globalisasi, dan pesatnya perkembangan teknologi membawa perubahan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal. Generasi muda mulai menjauh dari akar budayanya, sementara ajaran agama terkadang hanya menjadi formalitas tanpa penghayatan mendalam.

Di sinilah peran semua pihak menjadi penting—tokoh adat, ulama, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat—untuk kembali meneguhkan komitmen bersama. Adat harus tetap hidup dalam keseharian, dan syarak harus terus menyala dalam setiap langkah kehidupan.

Baca Juga :  Wawako Azhar Melayat Korban Tragedi Wahana Istana Balon, Sampaikan Belasungkawa dan Imbauan Keselamatan

Menjaga adat bukan berarti menolak perubahan, melainkan menyaringnya dengan bijak. Mengamalkan syarak bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup. Jika keduanya tetap terjaga, maka masyarakat akan kokoh, berkarakter, dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman.

Pada akhirnya, melalui falsafah sederhana namun penuh makna ini, tersimpan harapan besar: semoga adat tetap nyata dalam kehidupan, dan syarak terus menyala sebagai cahaya penuntun. Dengan demikian, jati diri masyarakat Kerinci akan senantiasa terjaga dari generasi ke generasi.

Sebagaimana penutup petuah adat:

Kedarat kuap buleguh, mundaki batang rapudin,

kerat dikerat batang ku sakai.

Dingan berat samo dipikul, dingan ringan samo dijinjing,

baru negeri aman selesai.

Berita Terkait

Mubes Perdana Debalang Provinsi Jambi Digelar, Pengurus Kabupaten/Kota Satukan Komitmen Perkuat Marwah Adat
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup
ISMI Kerinci–Sungai Penuh Resmi Dilantik, Bupati Monadi Dorong Penguatan Peradaban Melayu
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Jadi Komitmen Bersama Alfin dan Monadi
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB