Raibnya Naskah Kuno Kerinci: beberapa ilmu Agama Islam

- Redaksi

Jumat, 8 Agustus 2025 - 17:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

POROSJAMBIMEDIA.COM  – Tidak semua Naskah Kuno di Nusantara yang juga disebut oleh masyarakat lokal seperti di kerinci sebagai Tambo ini selalu dalam keadaan utuh. Itu bisa dimaklumi mengingat usianya yang cukup tua, ditambah lagi faktor iklim dan faktor lainnya yang membuat naskah ini menjadi usang dan bahkan ada yang hilang.

Seperti halnya Tambo yang Disimpan oleh Depati Sigumi Putih Koderat (Dusun Balai – Semurup).
Tambo yang diberi tanda Tambo Kerinci (TK.146) ini menerangkan :
Buku daripada daun lontar 60 helai, ditulisi dengan huruf Jawa lama. Gambar lagi diperiksa oleh tuan Dr. Poerbatjaraka di Betawi. Isinya beberapa ilmu agama Islam, di antaranya Kitab Seribu Mas’alah. Bahasanya sebagian bahasa Melayu, sebagian Bahasa ‘Arab dan barangkali ada juga bahasa Jawa.

Menurut Rusdi Fachrizal [Gelar Sigumi Putih Qudrat], saat ini Tambo tersebut sudah tidak ditemukan lagi di Umah Gedang. Bahkan lewat diskusi Group WhatsApp Majelis Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK), Jumat (8/8), Rusdi Fachrizal sempat menanyakan tentang hal ini kepada Prof. Uli Kozok, Seorang sejarawan, filolog dan paleograf kelahiran Jerman.

“sampai kini kami tidak tahu keberadaannya… Cerita yg orang tua2 dengar, kitab itu terbuat dari daun (lontar / Daluang?), dulu dibawa untuk diteliti (tidak jelas dibawa ke Batavia,inggris atau Belanda?)” Sebutnya.

apa yang ditanyakan oleh Rusdi Fachrizal ditanggapi langsung oleh Prof Uli Kozok.

Baca Juga :  LAM Jambi Gelar FGD Bahas Integrasi Hukum Adat dalam Penerapan KUHP Baru

“Setahu saya, satu-satunya orang yang pernah meneliti naskah Kerinci adalah Voorhoeve, dan dia tidak pernah membawa naskah ke Jawa atau ke Belanda. Jumlah naskah Kerinci di luar negeri sangat sedikit. Setahu saya, tidak sampai sepuluh. Kalau di Jerman misalnya, naskah dari Indonesia ada ribuan. Kalau Kerinci, nol.” Terang, Prof. Uli Kozok.

Menyambung apa yang diterangkan oleh Prof Uli Kozok, Rusdi Fachrizal mengatakan, berdasarkan cerita tetua bahwa kitab tersebut dibawa itu adalah jawaban mudah untuk memutus ataupun menutup keinginan anak cucu untuk mencari keberadaan kitab tersebut.

“Bisa jadi kitab tersebut sudah hilang karena rusak, disembunyikan ataupun disimpan oleh seseorang…
Ini PR kami lebih lanjut” kata Rusdi Fachrizal.

Selanjutnya Apa yang ditanyakan dan disampaikan oleh Rusdi Fachrizal (Sigumi Putih Qudrat) kepada Uli Kozok lewat diskusi Group (PASAK) tersebut berlanjut. Prof Uli Kozok menerangkan bahwa Yang di (TK) hampir semua disalin oleh Voorhoeve dan isterinya dengan bantuan Guru Hamid ketika mereka berada di Kerinci. Lalu ada juga naskah yang difoto, dan dikemudian hari di alih aksarakan di Pematang Siantar, tempat tinggal Voorhoeve, oleh Voorhoeve dan Guru Hamid yang ikut sama Voorhoeve ke Siantar.

“Saya tahu seluk beluknya karena saya masih sempat kenal dan kerjasama dengan Voorhoeve. Voorhoeve masih sempat menggendong anak saya, padahal usia mereka berbeda 92 tahun!” Sebut uli Kozok.

Baca Juga :  Mencermati Perayaan Hari Adat Melayu (HAM) Jambi KE-747

Sementara itu, Iwan Setio [Pecinta Adat, Budaya dan sejarah Kerinci) menyebutkan,  Sejauh informasi yang ia dapatkan, naskah asli Kerinci yang pernah dibawa keluar antara lain pada saat perang Kerinci Th1903, ada beberapa naskah kuno diambil (mungkin lebih tepatnya dirampas karena situasi perang) dan diserahkan oleh H. K. Manupasak ke sebuah lembaga di Batavia.

“Mungkin inilah naskah-naskah yang dalam buku [Tambo Kerintji] disebut Surat yang disimpan di (Gedung Arca Batavia). Selain itu juga ada naskah asli lontar dari Hiang (sudah ditransliterasi oleh Purbacaraka) yang dikirim oleh Controleur Morison untuk diteliti di Batavia sekitar pertengahan dekade 1930an. Diluar itu ada juga beberapa salinan naskah (kemungkinan dari Seleman dan Sanggaran Agung) yang dikirim ke Batavia, tp tdk tahu kapan waktunya. Bisa jadi ini dikumpulkan saat kunjungan Schreke ke Krc thn 1929” Sebut Iwan setio.

Berita Terkait

Mubes Perdana Debalang Provinsi Jambi Digelar, Pengurus Kabupaten/Kota Satukan Komitmen Perkuat Marwah Adat
Ramli Taha Dorong Debalang Jambi Bangun Fondasi Organisasi hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
H. Ramli Thaha Terpilih Aklamasi Pimpin Debalang Negeri Sepucuk Jambi 2026–2030
Luhah Depati Kepalo Sembah Tegaskan Amanah Adat dan Susunan Paramenti Jelang Kenduri Sko Tigo Luhah Semurup
ISMI Kerinci–Sungai Penuh Resmi Dilantik, Bupati Monadi Dorong Penguatan Peradaban Melayu
FGD Universitas Jambi Bedah Peran Kenduri Sko sebagai Instrumen Resolusi Konflik Politik Pasca Pilkada di Kerinci
IAIN Kerinci Gali Sejarah Pemerintahan Tradisional Lewat Pemerhati Adat
Penyatuan Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci Jadi Komitmen Bersama Alfin dan Monadi
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 02:09 WIB

Pemkab Kerinci Buka Peluang Kolaborasi dengan PT KMH untuk Perkuat Pengelolaan Sampah

Sabtu, 12 September 2026 - 23:59 WIB

Sabtu Ceria Rutan Sungai Penuh: Tingkatkan Kebugaran Jasmani dan Pererat Solidaritas Pegawai

Sabtu, 12 September 2026 - 10:34 WIB

Dorong Pengembangan Komoditas Kopi, Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit & Kompos ke Petani RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 07:31 WIB

Wako Alfin – Wawako Azhar Safari Jumat ke Masjid Nurul Haq RKE

Sabtu, 12 September 2026 - 04:04 WIB

Maulid Nabi 1448 H di Kerinci Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kepedulian Sosial

Sabtu, 12 September 2026 - 01:55 WIB

Sebagai Wujud Solidaritas Mitra Strategis, Rutan Sungai Penuh Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Jumat, 11 September 2026 - 19:47 WIB

PLN Peduli Serahkan Bantuan TJSL, MAN 3 Kerinci Resmi Miliki Kelas Digital

Jumat, 11 September 2026 - 14:54 WIB

Pemprov Jambi Buka Seleksi Komisi Informasi 2026-2030, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Berita Terbaru

Opini

Menerka Karakter Manusia Kerinci

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:47 WIB