POROS, KERINCI – Diskusi Online yang digelar oleh CEO Media Andalas Group, Safwandi., Dpt lewat Komal TikTok Andi Andalas Kerinci, yang juga secara langsung disiarkan oleh Radio Andalas Fm Kerinci pada Kamis, (12/6/2025), Pkl. 08.00 S/d 10.00 WIB, Berjalan Alot.
Diskusi mengangkat tema “Apakah Kerinci Suku Tertua Melayu?”.
menghadirkan Narasumber dari Akademisi UIN Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, yakni Dr. Zervina Yenti., M.Ag dan juga Akademisi UNJA, Nasuhaidi., S.Sos., S.Pd., M.Si.
Diskusi Online ini dibuka secara umum Oleh Media Andalas Group dengan tujuan agar apa yang disampaikan oleh para Narasumber bisa mengedukasi Publik.
Dalam pandangannya, Dr. Zervina Yenti menyebutkan, berdasarkan data-data ilmiah yang ada saat ini tidak bisa disangkal bahwa Kerinci merupakan bagian dari Suku Melayu.
Meskipun tentang ketuaan nya mesti harus dikaji lagi dengan menyodorkan cukup bukti, Namun setidaknya dari adanya diskusi ini sudah menjawab adanya Pro kontra yang selama ini diperdebatkan.
“Kerinci itu Melayu, karena salah satu Naskah Melayu Tertua di dunia ada di Kerinci. Dan tulisan Incung itu adalah tulisan Melayu” Sebut Dr. Zervina yang saat ini tengah sibuk melakukan penelitian terhadap Suku Anak Dalam (SAD) Melalui Project Menteri Keuangan Republik Indonesia.
Pandangan lain yang juga disebutkan Dr. Zervina bahwa Kerinci pada dahulunya merupakan tempat pertemuan Tuan Guru yang datang dari luar dengan tujuan untuk mempelajari ilmu Adat, Pertanian dan juga Hukum.
“Bahkan di Naskah Damasraya menyebutkan bahwa Kerinci merupakan Negeri penghasil emas. Itu juga menjadi alasan lain tertariknya orang luar kala itu untuk datang ke Kerinci”. Ungkap nya.
Sementara itu, Akademisi UNJA, Nasuhaidi., S.Sos., S.Pd., M.Si. juga mengamini pernyataan Dr. Zervina bahwa Kerinci adalah Melayu.
Nasuhaidi menyebutkan, awal dari sebuah peradaban juga bisa dilihat dari dua hal “dari tempat yang rendah dan juga tempat yang tinggi seperti Gunung Kerinci yang merupakan puncak Andalas (Sumatera)”.
“Pegunungan adalah daerah yang subur yang sangat memungkinkan untuk dilakukan pengolahan Pertanian dan bercocok tanam untuk menunjang keberlangsungan kehidupan orang di masa itu” sebut Nasuhaidi., S.Sos., S.Pd., M.Si. yang saat ini dipercai oleh UNJA sebagai Ketua Pusat Studi Melayu.
Selain itu, Nasuhaidi juga menyampaikan bahwa untuk mempelajari sejarah Melayu (Khususnya Kerinci) tidak cukup hanya berdasarkan tulisan, tapi juga sumber lain seperti adanya tutur lisan yang telah lama hidup di tengah masyarakat lokal, disampaikan secara turun temurun.
Toni Suherman., SH., MH., DPT Yang juga diminta oleh Host (Andi Andalas Kerinci) untuk memberikan pandangan terkait tema menyebutkan “bahkan Kerinci adalah cikal bakal adanya Melayu (induk Melayu).
“Sebelum Tokoh dari luar datang ke Kerinci, Moyang Kerinci sudah dulu ada di Kerinci. Itu bisa kita lihat lewat Tambo yang tersimpan di “rumah gedang” yang ada. Sayangnya sedikit sekali yang mau mempelajari dan mengetahui isi dari Tambo tersebut”. Kata Toni Suherman yang juga merupakan pengurus inti Lembaga Adat Melayu Kabupaten Kerinci.
Pada closing statement, Para Narasumber menyebutkan adanya perbedaan pemikiran dikalangan ilmuwan adalah sesuatu hal yang lumrah, karena pengetahuan terus berkembang.
Berkenaan dengan itu mereka juga berharap, khususnya kepada pihak pemerintah agar lebih membuka diri serta mendukung kegiatan-kegiatan terkait Adat dan Budaya supaya Nilai-nilai tersebut terus dapat di lestarikan sebagai pelajaran berharga bagi generasi saat ini dan mendatang.
Penulis : Red















