POROS, KERINCI – Dalam siaran Andalas Podcast yang tayang pada Sabtu (22/03) sore, Muhammad Tory Prasetya, mahasiswa Antropologi Universitas Andalas yang merupakan putra asli Sungai Penuh (Kerinci), mengungkapkan pentingnya budaya Kerinci sebagai bagian dari kearifan lokal yang selaras dengan alam.
Dalam diskusinya bersama Arya Geni Permana (Announcers), Tory menegaskan bahwa banyak tradisi Kerinci yang erat kaitannya dengan siklus alam, salah satunya dapat dilihat dalam Ritual Asyeik.
“Kegiatan Ritual Asyeik yang dilakukan saat ini bukan sekadar ritual kuno ataupun tradisi tradisional semata, namun jauh dari pada itu, ritual ini merupakan wujud nyata budaya suku bangsa Kerinci yang selaras dengan alam. Bersinergi istilahnya… hal ini bisa kita lihat dari berbagai jenis tumbuhan dan bermacam alat dan bahan yang digunakan dalam Ritual Asyeik ini yang sesungguhnya diperoleh dari hutan dan bumi Kerinci,” ujar Tory saat diwawancarai.
Sebagai salah satu Penerima Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2024 di wilayah kerja Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V meliputi pelaku budaya dan komunitas di Provinsi Jambi. Tory juga menyoroti hubungan antara bencana alam dan lunturnya budaya lokal. Menurutnya, perubahan lingkungan yang dirasakan masyarakat Kerinci, terutama di wilayah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, berkaitan erat dengan semakin terkikisnya budaya dan tradisi yang dahulu dijadikan pegangan hidup oleh orang Kerinci.
“Bencana alam (ekologi) yang dialami oleh masyarakat di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci berkaitan erat dengan semakin memudarnya kearifan lokal sebagai identitas dan pedoman hidup masyarakatnya. Salah satunya, Ritual Asyeik yang mulai ditinggalkan mencerminkan bagaimana alam tidak lagi dipandang sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia,” tambahnya.
Selain Ritual Asyeik, Tory juga menyoroti budaya lain seperti Ngayun Luci dan Kenduri Sko, yang sejak dahulu siklusnya terjaga, akan tetapi dewasa ini perayan yang melibatkan seluruh aspek masyarakat sudah tidak mencerminkan nilai-nilai filosofis antara manusia dan alam, hanya sekadar seremonial belaka. Kearifan lokal seperti itulah yang menunjukkan betapa nenek moyang Kerinci sangat menghormati alam. Namun, ia menyayangkan bahwa banyak masyarakat modern yang mulai melupakan kearifan ini, sehingga ilmu etnobotani dan etnobiologi yang dulu diwariskan secara turun-temurun kini hanya diketahui oleh segelintir orang saja.
Melalui podcast ini, Tory mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap budaya dan lingkungan. Ia menekankan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga solusi untuk menjaga keseimbangan ekologi dan mencegah kerusakan alam di Kerinci. Apalagi Etnik Kerinci sebagai Indigenous people di Sumatra, yang merupakan garda terdepan terwujudnya budaya ekologis (ecological culture) harus dapat menerapkan budaya dan prinsip ramah lingkungan sebagaimana yang diwarisi para leluhur terdahulu.
Penulis : Arya Geni Permana















