Oleh: Safwandi, Dpt (Ninik Mamak Kepalo Sembah)
Tokoh sejarah bangsa ini, ir. Soekarno pernah berkata “Jika kita melupakan sejarah maka kita akan menjadi bayi seumur hidup“
Apalah daya bagi seorang bayi, tidak banyak yang ia ketahui, tidak banyak pula yang bisa ia perbuat. Segala sesuatu tergantung kepada orang tuanya.
Begitulah gambaran jika kita tidak tau tentang sejarah (seperti Bayi).
“Tiada kesuksesan dan kehebatan seorang anak tanpa adanya bimbingan dari orang tua nya” ~ Safwandi, Dpt.
Dan tidak sepatutnya bagi seorang anak yang telah tumbuh sukses dan hebat lalu dengan begitu saja melupakan orang tua yang kini telah renta.
“Manusia modern bisa maju dan berkembang karena mempelajari sejarah Di masa lampau”~ Safwandi, Dpt.
Sejarah lampau sebagai dasar (cikal-bakal) berkembangnya segala sesuatu yang kita rasakan sempurna seperti saat ini.
Contohnya saja seperti Produk Hukum.
Dasar hukum Negara Indonesia adalah pancasila, sementara jauh sebelum tercetusnya pancasila, telah dulu ada hukum Adat sebagai hukum tertua. Dan bahkan, hukum adat masih diakui sebagai sumber hukum di Indonesia Karena pada dasarnya hukum itu tumbuh dan berkembang dengan sendirinya di tengah suatu bangsa.
Hal yang tidak kalah penting dari kita mempelajari dan mengetahui sejarah adalah agar kita mengetahui jati diri serta asal-usul kita (Nasab). Bahkan Tokoh utama Dunia seperti Muhammad SAW Sangat menganjurkan kita untuk mengetahui nasab.
“siapa yang mengenali nasabnya akan membawa kecintaan terhadap keluarga, menambah harta dan memperpanjang umur“.
Dari keterangan ini, marilah kita saling mengenal nasab ataupun silsilah keluarga kita, dari mulai bapak, kakek, kakek buyut sampai ke atas. Semoga dengan ini ikatan keluarga akan semakin kuat. Amin
Selain itu, dengan mengetahui sejarah, kita tidak mudah di jajah oleh bangsa asing. Segala kearifan yang merupakan pusaka tinggalan Leluhur akan dapat kita pertahankan dan pelihara dengan baik. “Jalan tidak akan di anjak pedagang lalu, Tapin tidak akan di asak uhang jauh“. Lewat pengetahuan sejarah, diantaranya kita menjadi tau pusaka rendah pusaka tinggi, mengenal mana tutu dan tabano, mana anak buah anak kemenakan, Mana wateh dingan bateh, arah sarato Ajun, bisa membedakan mano lawan dingan kawan, sarato tau siapo mendah masuk dingan mendah yang kelua.
Teramat banyak kearifan Adat lamo pusako usang jika di bilang disini. Hanya sedikit yang bisa penulis terangkan lewat sebuah catatan serta wawasan kami yang sangat sempit ini.
Kini, mari kita tolehkan Kepala dan buka mata dengan lebar untuk melihat tempat-tempat jajak para Leluhur kita yang kian hari makin samar terlihat, dan nyaris hilang di telan semak belukar yang tumbuh liar. Sedikit sekali diantara kita yang sadar bahwa jejak (Petilasan) itu merupakan tempat guru yang telah mengajarkan tentang nilai-nilai kearifan. Dari sanalah datang nyo SKO Yang kito sandang, dari sana pula datang Pusako yang kito ico kito pakai.
“Jangan Pusaka saja yang kita mau, tapi asal usul pusaka kita tidak tau“
Tentang Penulis :
Nama : Safwandi, Dpt.
Gelar : Ijung Putih Tuo (Ninik Mamak Kepalo Sembah)
Sekjend Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci yang juga merupakan seorang Budayawan
Penulis : Safwandi, Dpt
Sumber Berita : Porosjambimedia.com















