Mengungkap Makam Keramat di Desa Kuap Seberang, Tepi sungai batang Hari

- Redaksi

Selasa, 23 April 2024 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TK 149

Tidak banyak yang tau siapa dan darimana sebenarnya yang ditempatkan pada Makam Keramat yang berada tepat di bawah pohon kayu aro menjulang tinggi besar. Jika diperhatikan, pohon kayu aro ini sudah berusia ratusan tahun, pun sebuah petilasan yang ada dibawah pokok kayu rimbun tersebut, atau kita sebut saja
makam tua ini, barangkali makam ini sudah dulu ada dari pohon kayu aro.

Lalu makam siapakah adanya, dan darimana pula asal usul sosok yang dimakamkan ditempat ini..

Makam Badarah Putih (Depati Semurup) Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari
Desa Kuap Seberang.

Merujuk pada Tambo Kerinci (TK) yang hingga saat ini masih tersimpan dengan baik di rumah Gedang Sutan Depati Pangga bumi Tuo, Dusun Balai, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci-Jambi.
(TK 149) Tanduk bertulisan rencong berbunyi :

(1) hini surat tutur ninik kami paratama hasir da……..japa (?) nini (k)
(2) paduka hini ngada hanak handir halit sapa laki ni(?) nik? hakik datang di banan kabaw
(3) ngada hakan hanak hiyang balima surang hiya caya badua dingan hatan baginda tiga
dingan hawan
(4) malila hampat dingan bini patih jadi lima bini tuwan saha’ih ninik
(5) h(i)ya caya ngada hakan hanak hurang samilan sapa galar hanak baliyaw
bagalar sa……
(6) ………dibalang baduwa dingan kari dilan tiga hamas miyan (?) hampat hinduk tunggak
mu………..
(7) lima hinduk tamanggung kaja hanam bini mukahanum tujuh hanik galamba sala…..pa
(8) ma…njadi samilan hanik hala bangsu surang ninik sangada dibalang napat haku
(9) sus saka dipati karana munuh sukarami sabapa hitu ninik sangada dibalang sabab hitu
(10) jaka mataram bulih saka galar dipati pala pasambih harik hina p.anggar bumi lalu ganu
(11) nja hampat suka bulih patih galar dipati samurut lalu ka raja putih bulih
(12) galar haja simpan gumi badarih putih ngada hakan hanak hurang hanam
(13) sutan dipati ka habini diyang dua paratama cina tiga ninik dipati samurut mati di kuwap
hampat hini
(14) tamanggung kaja lima hand(i)r suri hanam handir ba’ik batiga hanak hanak baliyaw
saba’ik hurang sapa laki di………………
(15) mam batuwih sapa dingan sanak ninik raja tilih sapa dingan sanak saba’ik gampa raya
surang tiga dipati hantah
(16) panggar gumi ninik saba’ik hurang hampat hanak sida surang batina sapa galar hana dara
sapa di
(17) ngan sanak ninik dipati pala pasambah sapa hanak ninik dipati pala pasambih di
(18) ngan ditalap(??)hamaw hitu hanak surang samanda ka patih jariya surang nga
(19) mbik hanak riya hajung dalam dipati hana dara surang hanak bi(?)
(20) ni raja katip sapa laki hana dara sata hagung nama samudah hanak
(21) hanak samuda batiga surang surang dipati sadah hintan
(22) duwa ninik satimam sapa laki danga mata mengun
(23) tiga nini sahuram sapa laki……….
(24) dalam pati nagara dipati pala
(25) pasambah panggar gumi.
Tulisan yang melintang:
(2) ta’at……lak di
(3) …..samurat ma

Terjemahan TK 149

Baca Juga :  Adat lamo pasko usang Semurup, Njuk tau Jelang hari raya qurban

Menurut Andodias Rapuan, Gelar Sigumi Putih qudrat dan Safwandi. Dpt, (Ninik Mamak Kepalo Sembah Tuo) Semurup. Adapun pengertian dari Tambo diatas adalah :

ini surat yang di tuturkan oleh Ninik Kami. Pertama hasir datang? Jambi?. Ninik paduka ini mempunyai anak handir halit. Adapun suami dari Ninik halit adalah hakik yang berasal dari Minangkabau.
halit dan hakik menikah lalu mempunyai anak berlima.
Pertama bernama hiya caya, dua hatan baginda, tiga hawan malila, empat isteri patih jadi, lima isteri tuwan saha’ih.
ninik h(i)ya caya mempunyai anak
Sembilan orang. Siapa nama anak beliau :
Pertama sangadu dibalang, duwa kari dilan tiga hamas miyan (?) Empat hinduk tunggak mukahanum, lima hinduk tamanggung kaja, hanam bini mukahanum, tujuh hanik galamba, Delapan kilat manjadi, samilan hanik hala bangsu.

ninik sangada dibalang mendapatkan Saka (Seko) dipati karena munuh? sukarami. Dari mataram dapat saka gelar dipati pala pasambih harik hina panggar bumi, lalu genap nya empat saka, dapat patih gelar dipati samurut, lalu ke raja putih mendapat gelar raja simpan gumi badarih putih.

Raja simpan gumi badarah putih memiliki anak enam orang :
Pertama sutan dipati ka habini diyang, dua paratama cina, tiga ninik dipati samurut mati di kuwap.
Kuap adalah nama sebuah Dusun Tua yang secara administratif berada di Kecamatan pemayung, Kabupaten batang hari-Provinsi Jambi. Empat tamanggung kaja, lima hand(i)r suri, Enam handir ba’ik.

Handir baik mempunyai tiga orang anak:
Pertama saba’ik, ke Dua gampa raya, ke tiga dipati intan panggar gumi.

Ninik sabaik mempunyai empat orang anak.

Demikian secara singkat sebagai simpul terjemahan TK 149 Tanduk bertulisan rencong yang tersimpan di rumah Gedang Sutan Depati Pangga bumi Tuo, Dusun Balai.

Pandangan Praktisi Adat

Sementara itu, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Toni Suherman, Gelar Mangku Rajo Tuo Kunci Negeri, Endi Putra, Ninik Mamak Rajo Simpan Bumi dan Safwandi, Ninik Mamak Depati Kepalo Sembah Tuo. Di Desa Kuap Masyarakat setempat mengenal makam Keramat yang berada di Desa Kuap Seberang, tepatnya di bawah pohon kayu aro besar dengan sebutan “Makam Keramat bedarah Putih”

“Yang kami tau beliu ini dari mudik (Hulu). Kami menyebut makam Keramat ini “makam Keramat badarah putih”. Terang Datuk Hasbi yang merupakan sesepuh atau tetua di Dusun Kuap.

Toni Suherman (Depati Kunci Negeri) saat melakukan ziarah di Pemakaman Keramat berdarah putih (Kuap Seberang)

Bagaimana bisa, sementara di TK jelas diterangkan yang mati di kuap adalah Depati samurut (Semurup). Agaknya kedatangan beliau ke Kuap kala itu menyandang gelar yang di atasnya (Ayah/kakek) beliau yang bergelar Simpan gumi badarih (badarah) putih.

“Jika benar demikian, tentu sangat terkorelasi silsilah tersebut berdasarkan keterangan Tambo Kerinci. Artinya, perlahan sejarah lama mulai terkuak” Sebut Toni Suherman yang juga merupakan Sekretaris Majelis Permusyawaratan Adat (MPA) Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK).

Disisi lain, Endi Putra yang merupakan Pecinta Sejarah dan Budaya mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur dan juga terharu dengan ditemukannya Petilasan Depati Semurup di Desa Kuap Seberang (Batang Hari).

“Alhamdulillah.. sebagai Pecinta sejarah dan Budaya, tentu masih banyak hal-hal yang perlu kita lakukan untuk mengungkap sejarah leluhur kita pada masa dahulu. Mereka meninggalkan simbol, baik itu berupa aksara (Tambo) Pusaka, dan masih banyak lagi mahakarya mereka yang di wasiatkan kepada kita sebagai (anak cucu). Itu semua adalah amanah yang harus kita sambut serta pelihara dengan baik. Lebih lagi bagi kita sebagai generasi muda, karna sesui seloka tetua dahulu “patah tumbuh hilang berganti, hilang tubuh buganti badan, hilang tuo buganti mudo. Warih nak di jawat, walifah nak di junjung”. Ungkap Endi Putra secara panjang lebar.

Hal serupa juga disampaikan oleh Safwandi, Dpt. Yang juga merupakan Presiden Majelis Peduli Adat Sakti Alam Kerinci (PASAK) sekaligus Sekretaris Lembaga Adat Melayu Sakti Alam Kerinci (LAM-SAK). Ia berharap kepada masyarakat yang merasa peduli terhadap keberlangsungan kelestarian Adat dan Budaya untuk memperhatikan keadaan makam tua yang kurang terawat dengan baik, karena itu merupakan bagian dari simbol (identitas) sejarah. lebih lagi kepada pihak pemerintah, dirinya berharap kedepan pemerintah, khususnya Dinas terkait agar lebih memperhatikan hal hal yang berkenaan dengan sejarah supaya generasi selanjutnya tidak kehilangan jejak sejarah dan kearifan lokal.

Penuturan tentang badarah putih dari Datuk hasbi (Tokoh Adat Dusun Kuap)

Menurut Keterangan Datuk hasbi, Gelar Datuk jenang rantau betia yang juga merupakan Tokoh Adat Kecamatan pemayung, Desa kuap (Batang Hari). Adapun peristiwa adanya makam Keramat Badarah putih yang berada dibawah pohon kayu aro besar di Desa Kuap Seberang karena ia mati di situ setelah sebelumnya dirinya mengadu kesaktian dengan Keramat Bulu kerongkong.

Hasbi (Datuk Jenang rantau betia)
Sesepuh Desa Kuap

“Dari cerito yang sayo dengar dari tetuo dusun siko (sini) dulunyo. Beliau berdua, yakni Keramat berdarah putih dan Keramat bulu kerongkong saling mengadu kesaktian di Dusun sebrang sano. Peristiwa ini berawal dari badarah putih yang datang bersama seorang tukang cadik (Pengayuh perahu) dari mudik hingga sepanjang aliran sungai beliau sengaja mencari tandingan yang sepadan dengan kesaktian nya. Dari hulu hingga disepanjang sungai ini, tidak satupun yang bisa menandingi kesaktian nya. Hingga tibalah ia bersama pengayuh cadik di Dusun kuap ini dan akhirnya bertemu dengan Keramat Bulu kerongkong.
“Kalau nak bertanding, payuh di sebrang sano” kata Keramat  bulu kerongkong pada Keramat berdarah putih, seraya menunjuk kearah Seberang sungai batang Hari (tempat Dusun kuap seberang) saat ini. Setelah bersepakat untuk  berlaga satu lawan satu lalu keduanya saling mengeluarkan Keramat nya masing-masing. Dari pertandingan yang sangat sengit antara kedua pendekar mandraguna tersebut, akhirnya badarah putih terbunuh.
“Tigo hari tigo malam orang berduo itu berkelahi. Sampai sekarang masih ado bekas tanah yang dulunyo datar kini sudah cekung bekas tanding” kata datuk hasbi bercerita.
“Tapi dak lamo setelah itu Keramat bulu kerongkong jugo meninggal. Sementaro kawan bedarah Putih tukang kayuh perahu balik ke mudik. Mungkin dio yang menuliskan Tambo tentang matinyo Keramat berdarah putih di kuap, atau Di kerinci kato adik adik ko, sesuai tulisan di Tanduk (Tambo) beliau begelar Depati Semurup ” lanjut Datuk hasbi.

Penulis : Safwandi, Dpt (Ninik Mamak Kepalo Sembah Tuo)

Berita Terkait

Adat lamo pasko usang Semurup, Njuk tau Jelang hari raya qurban
ISMA Peduli Ravania Gelar Penggalangan Dana Bantu Biaya Pengobatan
LAM Kerinci Tandatangani PKS dengan Pengadilan Agama Sungai Penuh. Toni Suherman, S.H., M.H. Dpt: Peran Adat Sebagai Mediator Berbasis Kearifan Lokal.
PERKUAT PARTISIFASI POLITIK MASYARAKAT ADAT PADA PILKADA KERINCI.
Tale Haji warisan Budaya islam di Kerinci
Gubernur Al Haris –  Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman
Prediksi Musim Kemarau Tahun 2024 di Indonesia
Bertemu dan Berdialog dengan Petani di Desa Tidar Kuranji, Gubernur Al Haris Dukung Pengembangan Komoditas Cabai

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 10:47 WIB

Sukma Djaya Negara di lantik sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sungai Penuh

Selasa, 11 Juni 2024 - 11:46 WIB

SOLIDARITAS MASYARAKAT TLS DALAM BENTUK PENGGALANGAN DANA BANTUAN SOSIAL ATAS EKSEKUSI RUMAH SATARIAH DI DESA BALAI

Senin, 10 Juni 2024 - 17:20 WIB

AMSB PEDULI KORBAN EKSEKUSI RUMAH HASIL BANTUAN BAZNAS

Jumat, 7 Juni 2024 - 12:26 WIB

SMA NEGERI 2 KERINCI BAGIKAN  BEASISWA PIP (PROGRAM INDONESIA PINTAR) BEKERJASAMA DENGAN BNI.

Selasa, 4 Juni 2024 - 10:07 WIB

Nelly Afrianty Dipercayai Menjadi narasumber Oleh BPMP Provinsi Jambi Dalam upaya Optimalisasi pemanfaatan chromebooks dan akun belajar.id.

Rabu, 29 Mei 2024 - 20:50 WIB

Tafyani dan Fadli sepakat untuk saling mendukung demi kemajuan Kerinci kedepan

Selasa, 28 Mei 2024 - 18:38 WIB

Sepi peminat, Panwascam diminta bersikap profesional bukan karena ada Titipan.

Selasa, 28 Mei 2024 - 17:54 WIB

Kasus Anak bunuh Ibu kandungnya Di kerinci Jambi – Polres Kerinci gelar Press Release

Berita Terbaru

seni dan budaya

Adat lamo pasko usang Semurup, Njuk tau Jelang hari raya qurban

Jumat, 14 Jun 2024 - 21:58 WIB